Elohim Ministry umum Dekat dimata tapi Jauh dihati

Dekat dimata tapi Jauh dihati



Renungan Harian, Selasa 07 Mei 2024

Bacaan: Markus 10:35-45

Nats:  Markus 10:37, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Syalom bapak ibu saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . . .

            “Jauh dimata dekat dihati” pepatah Indonesia yang sangat dikenal secara turun-temurun samapai zaman sekarang ini. pepatah yang memiliki makna yang luar biasa, memberikan pengertian tentang sebuah kehidupan, relasi antara insan manusia.

            Ini bisa tampak di dalam diri Yakobus dan Yohanes terhadap Tuhan Yesus. Perhatikan permintaan mereka pada ayat emas kita hari ini. Mereka dekat dengan Yesus sehingga merasa berhak meminta tempat yang dekat dengan-Nya, di “sebelah kanan dan kiri”. Namun, apakah hati mereka dekat kepada-Nya? Permintaan ini diajukan tepat sesudah Yesus menyatakan bahwa Dia akan menderita. Yang ada di pikiran mereka tentang tempat atau kedudukan. Ini menyedihkan sekali. Mereka meminta tempat yang dekat dengan Tuhan Yesus, di sebelah kiri dan kanan, padahal hati mereka sesungguhnya jauh sekali dari Yesus.

            Apakah sepuluh murid yang lain lebih baik? Firman Tuhan mencatat pada ayat 41, saat mengetahui hal itu mereka menjadi marah terhadap Yakobus dan Yohanes. Meskipun sepuluh murid yang lain tidak mengungkapkannya secara langsung kepada Tuhan Yesus tapi akhirnya tampak juga kalau mereka punya ambisi yang sama dengan Yakobus dan Yohanes. Kita bisa mengetahui ambisi mereka di pasal sebelumnya (Mrk. 9:33-37), dimana mereka bertengkar siapa yang terbesar atau terhebat di antara mereka, dan itu sama terjadi setelah Tuhan Yesus menyatakan bagaimana Dia harus menderita.

Ironis sekali, bukan? Orang-orang terdekat Tuhan Yesus, yang melihat bagaimana Dia melayani, tidak mau mengerti isi hati Gurunya. Orang-orang terdekat Tuhan Yesus justru hatinya jauh dari-Nya. Pusat hidup mereka adalah dirinya sendiri, mereka melayani tapi tidak memiliki jiwa seorang pelayan/hamba. Pola yang diikuti adalah pola dunia.

Lalu bagaimana dengan kita?  Nabi Yesaya pernah mengatakan: Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan (Yes.29:13). Orang Israel bangga dengan status sebagai umat pilihan Allah, mereka berpikir merekalah yang benar. Mulut bibirnya tampak memuliakan Tuhan, hidup tampak beribadah kepada Tuhan, mereka mendengar langsung suara Allah, mereka melihat langsung perbuatan ajaib Allah dalam keseharian kehidupan, namun sesungguhnya mereka jauh dari Allah. Sungguh menyedihkan!

            Hidup beribadah harusnya menjadi gairah gereja masa kini. Kita bukan bertanding dalam semangat suam-suam kuku, tetapi berdiri dalam kekokohan, keteguhan iman percaya yang terus bertumbuh. Orang Kristen jangan hanya bangga karena sudah beribadah, berdoa dan bersekutu bersama, dan jangan pernah bangga karena hidupmu dalam lingkup kerohanian, tetapi justru kita harus bijak diri, sadar diri, dan jangan tersesat dalam sandiwara kehidupan. Tidak ada satupun manusia yang tahu akan isi hatimu, karena itu tersimpan jauh dan tak tersentuh bahkan oleh diri kita sendiri. Maka berhati-hatilah dengan hatimu, hatiku, hati kita semua.

Hati yang percaya, hati yang tunduk, hati yang taat kepadaNya. Sungguh bahagialah hidup ini, ketika kita beribadah dengan hati yang sungguh kepadaNya.

Segala kemuliaan dan hormat hanya bagi Tuhan. Tuhan memberkati

Tuhan Yesus Memberkati

TC

Bacaan Alkitab hari ini : Ulangan pasal 16 dan 17

https://elohim.id/baca-alkitab-selasa-07-mei-2024/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *