Renungan Harian Youth, Selasa 24 Juni 2025
Amsal 15:13, Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat
Pengarang humoris Amerika ternama, Mark Twain, berkata: “Umat manusia memiliki satu senjata paling efektif, itulah tertawa. “Sebuah penelitian melaporkan, dalam sehari anak-anak rata-rata tertawa 400 kali, sementara orang dewasa hanya 15 kali. Artinya, semakin tua semakin kurang tawa kita. Padahal tertawa itu, selain sehat, menyuburkan semangat. Sayang, rupanya ‘senjata’ yang satu ini sering tak terpakai.
Rekan-rekan youth, Kapan terakhir kali kalian tertawa dengan lepas? Akivitas kita yang padat mungkin sering membuat kita tegang dan sangat sulit tertawa. Tentu ini adalah bagian dari dorongan semangat dari penulis Amsal untuk kita lebih rileks dalam meghadapi hidup ini. Meskipun demikian, pada kenyataannya terkadang ada banyak hal yang membuat anak-anak Tuhan hidup dalam keputusasaan.
Penulis Kitab Amsal peduli pada hati manusia yang sedang dirundung patah semangat. Kondisi patah semangat berpengaruh buruk pada fisik seseorang. Sedangkan bagi jiwanya, itu amat melumpuhkan, membuat ia kehilangan daya juang. Maka, ia mengajukan senjata penawar, yaitu karunia Allah berupa potensi untuk bergembira.
Hati yang gembira baik bagi badan, layaknya obat. Baik pula bagi jiwa, yakni memompa semangat
Amsal 17:22, Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang
Salomo membandingkan kedua hal tersebut, “hati yang bahagia dan semangat yang patah.” Kita mendapatkan nasehat bahwa hati yang bahagia adalah obat, bahkan dokter pun selalu menyampaikan hal yang demikian. Artinya suasana hati seseorang akan mempengaruhi seluruh kehidupannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keadaan orang yang sedang bahagia tentu akan memberikan dampak terhadap kesehatan seseorang, baik kesehatan fisik maupun secara psikis.
“Hati yang gembira” merupakan keadaan emosional dan mental yang positif. Ketika seseorang merasa bahagia dan memahami arti hidup, maka efek positif bisa mempengaruhi kesehatan fisik. Rasa bahagia tersebut tentu akan meningkatkan imun dan sistem kekebalan tubuh, bahkan bisa mengurangi stres. Oleh karena itu, kita harus selalu berbahagia dan tidak berputus asa.
Mengapa kita harus bergembira atau bersukacita?
1. Karena bergembira itu sebuah keputusan pribadi
Bergembira, susah senang merupakan pilihan dari setiap pribadi masing-masing, suami/istri serta anak-anak bahkan pemimpin rohani kita juga tidak bisa memaksakan hati kita untuk bergembira jika kita sendiri tidak menciptakannya, semua bergantung dari keputusan kita untuk bersukacita.
2. Bergembira membuat kita lebih sehat
Firman Tuhan tidak pernah salah, tubuh jasmani kita akan menjadi letih lesu jika setiap hari kita hanya bersungut-sungut, mengeluh serta menggerutu, akan membuat tulang-tulang kita menjadi kering.
Daud pernah bertutur dan memrintahkan kepada hatinya untuk tetap bersukacita meski keadaan yang dihadapinya sangat berat,
Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
3. Sukacita kita akan membawa dampak yang baik bagi orang lain
Sadar atau tidak bahwa saat kita bergembira atau bersukacita maka akan membawa dampak yang baik bagi keadaan pribadi kita atau orang-orang yang ada disekeliling kita karna dalam pujian dan ucapan syukur serta kata-kata yang positif akan mendatangkan atmosfir baik bagi sekeliling kita. Ayo, tetap semangat dan tetap bersukacita.
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.”
Kata “berseri-seri” dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa makna, namun yang paling umum adalah bercahaya atau bersinar, terutama pada wajah atau air muka yang tampak cerah dan ceria. Selain itu, bisa juga berarti tampak elok atau indah secara keseluruhan. Berseri-seri yang berarti bercahaya atau bersinar memiliki Makna ini sering dikaitkan dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan atau keceriaan. Misalnya, “Wajahnya berseri-seri setelah mendengar kabar baik.”
Apakah penulis amsal itu meminta kita untuk selalu tersenyum di setiap gangguan, kekecewaan, dan ketidaknyamanan yang kita alami dalam hidup ini?
Tentu tidak! Ada waktunya bagi kita untuk berduka, patah hati, atau bahkan marah atas ketidakadilan yang kita alami. Namun dalam kehidupan kita sehari-hari, sebuah senyuman dapat memberikan kelegaan, pengharapan, dan kasih yang kita perlukan untuk terus melangkah maju.
Mungkin amsal tersebut hendak menyatakan bahwa senyum merupakan dampak alami yang keluar dari kondisi batin kita. “Hati yang gembira” adalah hati yang merasa damai, puas, dan berserah kepada kebaikan Allah. Ketika hati kita memancarkan kegembiraan yang berasal dari dalam batin, kita dapat menanggapi situasi-situasi tak terduga yang kita alami dengan senyuman yang tulus.
Akhirnya, Output dari hati yang gembira adalah muka kita berseri-seri, dan sukacita itulah yang membangkitkan semangat. Tetapi output dari kepedihan hati adalah hilangnya semangat, hilangnya daya juang dan sukacita. Saudara, hidup selalu diperhadapkan dengan berbagai hal yang kadang bisa mengguncang hati dan jiwa kita sehingga cenderung ekspresi yang kita keluarkan adalah kelemahan, patah dan hilang harapan. Tetapi sebagai anak Tuhan kita tahu pasti bahwa ada Tuhan yang selalu mendampingi, membangkitkan kekuatan dan semangat kita menghadapi berbagai musim yang tidak mengenakkan.
“Hati yang gembira” merupakan keadaan emosional dan mental yang positif. Ketika seseorang merasa bahagia dan memahami arti hidup, maka efek positif bisa mempengaruhi kesehatan fisik.
Rasa bahagia tersebut tentu akan meningkatkan imun dan sistem kekebalan tubuh, bahkan bisa mengurangi stres. Oleh karena itu, kita harus selalu berbahagia dan tidak berputus asa.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – DOT
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan