AGAK LAEN



Renungan harian Youth, Kamis 29 Februari 2024

Syalom rekan-rekan youth semuanya, semoga rekan-rekan dalam keadaan baik dan sehat, semua hal yang dikerjakan rekan-rekan hari ini Tuhan buat berhasil

Rekan-rekan hari ini adalah hari yang agak beda karena kita ditanggal yang hanya berulang setiap 4 tahun atau tahun Kabisat yaitu tanggal 29 Februari. Tema renungan harian kita hari ini adalah “Agak Laen”, tentunya kita langsung inget sama film yang lagi trending didunia perfilman nasional kita. Tetapi kita tidak akan membahas konten dari film ini namun meminjam istilah “Agak Laen” untuk melihat panggilan setiap orang percaya menghidupi kehidupan yang berbeda dan berani untuk melakukan Firman Tuhan.

Biasanya, pemimpin dianggap sebagai individu yang baik, hebat, dan tanpa cela. Demikian pula, orang yang layak menjadi pemimpin bangsa adalah mereka yang memiliki latar belakang yang bersih, bukan terlibat dalam kegiatan kriminal atau menjadi tersangka dalam kasus hukum tertentu. Namun, apakah benar semua tokoh dalam Alkitab adalah individu yang benar-benar baik dan tanpa cela di masa lalu? Mari kita telusuri di dalam Alkitab, terutama dalam kitab Hakim-hakim, Ada Simson, Gideon, Debora, tetapi juga ada yang bernama Yefta. Dia adalah seorang pahlawan yang berbeda dari yang lainnya. Bukan tentang  berbeda dalam hal pakaian atau kepribadian, tetapi terutama dalam asal-usulnya. Kita akan belajar dari Kitab Hakim-hakim 11:1-11.

Nama Yefta adalah singkatan dari yiftakh-‘el yang berarti ‘Allah membuka (rahim)’, la lahir dari seorang pelacur kafir, kala Gilead belum memiliki anak. Setelah istri Gilead melahirkan anak-anak lelaki, mulailah muncul tekanan terhadap Yefta. Jadi yang membedakan Yefta dari yang lainnya? Ternyata perbedaannya terletak pada latar belakang dan sejarah keluarganya. Yefta adalah anak dari seorang wanita yang tidak diakui oleh masyarakat sebagai istri sah dari ayahnya, Gilead. Karena itu, Yefta dianggap sebagai anak haram dan tidak dianggap sebagai ahli waris di keluarga Gilead. Hal ini menyebabkan Yefta dibenci oleh saudara-saudara dari istri sah ayahnya. Akibatnya, Yefta akhirnya meninggalkan keluarganya dan pergi dari rumah ayahnya. Penolakan keluarga besarnya membuat Yefta lari meninggalkan saudara-saudaranya dan tinggal di tanah Tob. la pun bergabung dengan gerombolan ‘preman’, petualang-petualang yang melakukan aksi pencurian dan perampokan-perampokan.

Ketika bani Amon menyerang orang Israel, para tua-tua Israel mendatangi Yefta yang terusir dari tempat asalnya oleh para saudaranya. Mereka meminta Yefta berperang melawan orang Amon yang telah memaklumkan perang melawan Israel. ‘Anak haram’ ini diminta menjadi pemimpin pasukan Gilead sebagai panglima. Yefta yang terbuang heran dengan tawaran tersebut, sebab bukankah ia dibenci dan sudah diusir dari kaumnya. Namun para tua-tua meyakinkannya bahwa mereka sungguh-sungguh meminta pertolongannya, bahkan kalau ia memenangkan pertempuran itu, sebagai imbalan ia akan diangkat menjadi kepala atas seluruh penduduk Gilead. Para tua-tua meyakinkan Yefta dengan menjadikan Tuhan sebagai saksi, sehingga akhirnya Yefta bersedia memimpin peperangan tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa meskipun dianggap tidak berharga karena latar belakangnya, ia tetap bisa berkontribusi dan menjadi pemimpin yang efektif. Yefta berani menjadi berbeda, menjadi pemimpin dari kalangan yang dianggap terpinggirkan, dari orang-orang yang dianggap rendah. 

Mengapa beberapa anak Tuhan memiliki keberanian, sementara yang lainnya tidak? Setiap kita memiliki potensi untuk menjadi berani,

1. Orang-orang yang berani dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.

Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dan yang salah? Ingatlah apa yang telah kita pelajari sebelumnya? Alkitab adalah panduan yang diberikan oleh Pencipta kita untuk kehidupan ini. Dalam 2 Timotius 3:16 dikatakan bahwa firman Allah “memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk mem-perbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”  

Penting bagi kita untuk mengenal apa yang kita yakini, dan iman kita harus didasarkan pada firman Allah.

2. Orang-orang yang berani memiliki keyakinan dalam hati mereka untuk bertahan teguh dalam memegang kebenaran.

Keyakinan inilah yang memberi kita energi untuk memilih yang benar. Memahami bahwa yang benar itu baik, dan yang lebih baik adalah melakukan yang benar. Mazmur 119:30-31 mengatakan, “Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku. Aku telah berpaut pada peringatan-peringatan-Mu, ya TUHAN, janganlah membuat aku malu.”

Keberanian mengharuskan adanya tekad pribadi untuk memegang teguh apa yang benar menurut keyakinan kita.

3. Orang-orang yang berani mendapat kekuatan mereka dari Allah.

Seperti halnya dengan Yefta keberanian dia bukan karena Yefta merasa mampu, namun Yefta menyadari bahwa semua adalah karena pertolongan dari Allah.  Sebelum pergi berperang, Yefta membawa segala perkaranya kepada Allah di Mizpa, karena ia sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan ia tidak akan berhasil. Ayat 29 menulis, ”Roh Allah menghinggapi Yefta”. Roh Allah ada sumber kekuatan yang melampaui kekuatan manusia, yang menggerakkan seseorang untuk melakukan perbuatan- perbuatan yang luar biasa. Yefta ambil bagian dalam rencana Allah untuk melakukan pembebasan bagi umat Israel dengan kekuatan yang dari Allah, bukan semata oleh kekuatannya sendiri.

Hari ini kita belajar bahwa jika kita teguh dalam memegang kebenaran Allah, maka kita akan memiliki keberanian untuk menghadapi segala sesuatu. Oleh karena itu, peganglah teguh kebenaran Allah dan lihatlah kasih dan kesetiaan-Nya yang nyata dalam hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati

YNP – SCW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *