Renungan Harian Senin, 25 November 2024
Kehidupan sering kali membawa kita pada momen-momen penuh kegelapan, yang disebut “lembah kekelaman” atau “masa padang gurun.” Di saat-saat seperti ini, kita merasa seolah-olah Tuhan jauh, doa kita hampa, dan jalan keluar sulit ditemukan.
Apa yang Kita Lakukan?
Ketika berada dalam masa padang gurun, kita cenderung melakukan dua hal:
- Usaha secara eksternal – Kita mencari solusi melalui orang lain, keadaan, atau sumber daya yang kita miliki.
- Usaha secara internal – Kita mencoba menggali kekuatan dari dalam diri, tetapi sering kali tetap merasa lelah dan kosong.
Lalu muncul pertanyaan: Apa Tuhan marah? Mengapa Dia diam?
Pertanyaan ini bukanlah hal baru. Bahkan pemazmur pun menuliskannya dalam ratapan mereka:
- “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10:1).
- “Berapa lama lagi TUHAN, Kaulupakan aku terus menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2).
- “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” (Mazmur 22:2-3).
- “Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri, dan janganlah berpangku tangan, ya Allah!” (Mazmur 83:2).
Mengapa Tuhan Mengizinkan Masa Padang Gurun?
- Membebaskan Kita dari Ketergantungan yang Salah
Masa padang gurun sering kali adalah cara Tuhan untuk memurnikan hati kita, melepaskan kita dari hal-hal yang selama ini kita andalkan selain Dia. Ketika kita kehilangan segalanya, kita belajar bahwa hanya Tuhan yang cukup. - Proses Pemurnian
Dalam masa kesesakan, Tuhan menguji iman kita. Apakah kita tetap setia mencari-Nya atau hanya mencari berkat-Nya? Masa ini mengajarkan kita untuk bergantung sepenuhnya kepada kasih karunia-Nya dan membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus.
Apakah Doa Kita Hampa?
Sering kali, doa kita menjadi hampa karena fokus kita salah. Kita berdoa bukan untuk mencari kehendak Tuhan, melainkan untuk memaksakan kehendak kita sendiri. Kita berdoa bukan untuk mencari Tuhan, tetapi untuk meminta berkat-Nya.
Pemazmur mengajarkan kita untuk tidak berhenti di dalam keluhan. Di tengah-tengah kesesakan, mereka tetap memuji Tuhan:
- “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (Mazmur 13:6).
- “Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya” (Mazmur 22:25).
Masa padang gurun bukanlah tanda bahwa Tuhan marah, melainkan panggilan untuk semakin mendekat kepada-Nya. Doa yang tampak hampa bagi kita adalah kesempatan untuk belajar berserah dan percaya kepada kasih setia-Nya.
Banyak orang berdoa bukan untuk cari TUHAN tapi cari berkatnya TUHAN Banyak orang berdoa bukan untuk cari kehendak-NYA tapi kehendak-ku.
Apakah selama ini doa kita lebih banyak meminta daripada mencari kehendak Tuhan? Apakah kita mendekat kepada Tuhan hanya untuk berkat-Nya, atau benar-benar ingin mengenal Dia? Masa padang gurun adalah waktu bagi kita untuk merenungkan motivasi doa kita. Jangan biarkan doa kita menjadi hampa karena fokus yang salah. Sebaliknya, jadikan doa sebagai sarana untuk mendekat kepada Tuhan, mempercayai rencana-Nya, dan memuliakan nama-Nya.
Jika saat ini Anda merasa berada di lembah kekelaman, jangan menyerah. Tuhan tidak pernah diam. Dia mendengar setiap keluhan Anda, bahkan doa-doa yang tidak terucapkan. Percayalah, masa padang gurun ini akan menjadi kesaksian besar tentang kebaikan dan kasih setia Tuhan.
Tuhan mendengar dan peduli. Seperti yang dikatakan dalam
Mazmur 10:17, “Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya TUHAN; Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telinga-Mu.”
Maka, tetaplah berharap kepada Tuhan, karena Dia adalah Allah yang setia dan tidak pernah meninggalkan kita. Di balik doa yang tampak hampa, ada berkat yang sedang disiapkan untuk menguatkan iman kita dan memurnikan hati kita.
Jangan berhenti mencari Tuhan, bukan hanya berkat-Nya. Dalam masa padang gurun, Dia hadir untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih murni, lebih kuat, dan lebih bergantung kepada-Nya. Sebab di balik setiap doa yang hampa, ada Tuhan yang mendengar dan menjawab pada waktu-Nya.
Rangkuman Khotbah
Pdt. Ester Budiono