Renungan Harian Senin, 07 April 2025
Panggilan untuk Menjadi Kudus
“Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus.” — Roma 1:7a
“Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus.”— 1 Korintus 1:2a
Ketika kita mendengar kata “kudus”, sering kali yang muncul dalam pikiran kita adalah sesuatu yang jauh, sulit dijangkau, dan hanya cocok untuk orang-orang tertentu saja — mungkin yang hidup di biara, di hutan, atau yang tidak bersentuhan dengan dunia. Bahkan, ada yang merasa alergi terhadap kata itu. Tapi tahukah kita bahwa Alkitab justru menyebut setiap orang percaya sebagai “orang kudus”? Ya, Paulus memakai kata itu lebih dari 60 kali dalam surat-suratnya untuk menyapa jemaat Tuhan. Jadi, kekudusan bukan hanya untuk “orang-orang pilihan” — melainkan untuk kita semua yang mengikut Kristus.
Ketika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan bahwa setiap orang percaya disebut sebagai orang kudus. Kekudusan bukan hanya milik para nabi, pendeta, atau orang-orang tertentu yang dianggap “lebih rohani”, tetapi panggilan ini adalah untuk setiap orang percaya. Paulus tidak segan-segan menyapa jemaat sebagai “orang-orang kudus” — menunjukkan bahwa status ini melekat karena kita ada dalam Kristus, bukan karena kita sudah sempurna.
SETIAP TUHAN MENDEKAT, MAKA SESUATU MENJADI KUDUS
Kekudusan bukan dimulai dari perbuatan luar, tetapi dari kehadiran Allah di dalam hidup kita. Bukan karena kita sempurna, tetapi karena Allah sendiri — melalui Roh Kudus — tinggal di dalam kita. Hidup kita menjadi tempat kediaman-Nya. Maka tubuh kita disebut bait Allah, tempat yang kudus. Dari sinilah mengalir kerinduan untuk hidup sesuai kehendak-Nya.
“Kekudusan bukanlah sesuatu yang dapat kita capai dengan usaha sendiri, tetapi terutama hasil dari pekerjaan Roh Kudus dalam hati kita.” — Charles Spurgeon
Di sepanjang sejarah Alkitab, ketika hadirat Tuhan hadir, maka tempat atau orang itu menjadi kudus. Musa harus menanggalkan kasutnya karena tanah yang diinjaknya menjadi kudus saat Tuhan hadir di semak menyala. Demikian juga hidup kita — ketika Roh Kudus hadir dalam diri kita, hidup kita menjadi kudus.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” — 1 Korintus 6:19
“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”
“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” — 1 Petrus 1:15-16
Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk percaya, tetapi juga untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan bukan sekadar aturan hidup atau moralitas yang baik itu adalah panggilan untuk menjadi serupa dengan Allah, yang kudus adanya.
APA ITU KEKUDUSAN?
1. Bertumbuh Semakin Serupa dengan Kristus
Kekudusan adalah proses. Kita tidak menjadi sempurna dalam semalam, tapi kita terus dibentuk dan dibaharui setiap hari oleh firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus.
“Kekudusan adalah keadaan dimana kita hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.” — Agustinus
2. Dipisahkan untuk Tujuan Khusus
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” — 1 Petrus 2:9
Kekudusan juga berarti bahwa kita dipisahkan dari dunia ini untuk sebuah tujuan ilahi — yaitu memberitakan kemuliaan-Nya.
BAGAIMANA HIDUP DALAM KEKUDUSAN (S-I-M)?
1. Siapkan Akal Budi, Hidup dalam kekudusan dimulai dari pola pikir yang diperbaharui.
“Sebab itu siapkanlah akal budimu.” – 1 Petrus 1:13a
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” Roma 12:2
“Pikirkanlah semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar…” – Filipi 4:8
2. Ingat Surga, Hidup kita di dunia ini sementara. Kekudusan juga berarti menghidupi nilai-nilai kekekalan.
“Waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” — 1 Petrus 1:13b
“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.” — 1 Petrus 1:14
Kita bukan lagi hidup dalam cara hidup lama. Kekudusan menuntun kita untuk meninggalkan hawa nafsu dan mengikuti kehendak Tuhan.
“Kekudusan bukanlah transformasi dari luar ke dalam, tetapi dari dalam ke luar.”
Artinya, kita tidak sedang memoles penampilan luar supaya terlihat saleh. Tapi kekudusan yang sejati dimulai dari hati yang dipenuhi oleh kasih dan kebenaran Allah. Dari hati yang berubah, muncullah kehidupan yang serupa Kristus.
Kekudusan bukan beban yang berat. Kekudusan adalah undangan penuh kasih dari Allah untuk hidup bersama-Nya. Kita dikuduskan bukan karena usaha kita, tetapi karena Dia telah memilih dan memanggil kita. Mari buka hati kita. Biarlah Roh Kudus bekerja dalam hidup kita. Jangan tolak panggilan-Nya.
Karena ketika Allah hadir, hidup kita menjadi kudus.
“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” — 1 Petrus 1:16
Doa: Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memanggil kami menjadi kudus, bukan karena kami layak, tapi karena Engkau tinggal dalam kami. Ajar kami untuk hidup dekat dengan-Mu, mengenal firman-Mu, dan menjauhi yang tidak berkenan. Bentuk kami menjadi serupa dengan Kristus. Amin.
Catatan Khotbah
Pdt. Ester Budiono