Elohim Ministry youth IDENTITAS DIRI

IDENTITAS DIRI



Renungan Harian Youth, Selasa 10 Januari 2023

Syalom rekan-rekan Youth yang terkasih. Kita bersyukur untuk hari ini, hari demi hari boleh kita lalui, semuanya hanya karena kebaikan dan kasih Tuhan didalam kehidupan kita.

Rekan-rekan berbicara mengenai identitas diri, maka bahasanya adalah siapa diri kita yang sebenarnya. Sayangnya pandangan yang umum berlaku dalam masyarakat terlanjur keliru. Misalnya ketika ditanya, siapa itu Lionel Messi? Maka akan dijawab pesepakbola yang handal dari klub Barcelona, atau siapa itu Jokowi? Jawabannya pasti Presiden Indonesia. Disinilah letak kesalahannya. Kedua jawaban itu adalah pekerjaan mereka berdua.

Atau dalam hal ini, ketika identitas diri berbicara mengenai nilai diri, maka ada begitu banyak orang-orang yang akan mengganggap, bahwa mereka bernilai dengan apa yang mereka kenakan. Maka dari itu kita sering melihat orang-orang disekitar kita, atau kita melihatnya dari sosial media, orang-orang yang memamerkan harta yang dia punya, baju harga puluhan juta, tas, jam, sepatu dan barang-barang branded dengan harga ratusan juta. Itu semua mereka lakukan, karena mereka merasa akan memiliki nilai diri yang baik, jika mereka memiliki semua itu.

Pandangan inilah yang menyebabkan kita cenderung untuk menganggap rendah oranglain. Ketika kita tahu pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang bergengsi, maka orang tersebut menjadi tidak masuk hitungan dimata kita, atau saat seseorang tidak memiliki barang-barang mewah, barang mahal-mahal, dan kita langsung merendahkan dan membuat dia tidak masuk hitungan dimata kita. Situasi inilah yang membuat orang berlomba-lomba untuk mempunyai  jabatan dan gelar, supaya nilai diri mereka dimata oranglain menjadi tinggi dan dihormati.

1 Yohanes 3: 1-2, Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Situasi diatas seharusnya tidak perlu terjadi, jika kita sudah menyadari bahwa kita bukanlah apa apa yang kita kerjakan dan apa yang kita pakai. Ketahuilah, cara menilai orang berdasarkan pekerjaan dan latar belakang keluarga bukan terjadi sekarang saja, karena  dijaman Tuhan Yesus, DIA pun mengalami perlakuan hal yang sama. Didalam perjanjian  Baru, para ahli taurat, orang farisi dan kebanyakan orang Israel, menilai Tuhan Yesus bukan sebagai Mesias.  Bagi mereka, Yesus adalah seorang anak tukang kayu yang miskin, anak Yusuf dan Maria yang berasal dari Nazaret dan tidak terpelajar. Mereka telah melihat mujizat yang dibuat Yesus, serta kagum dengan pengetahuan dan pengajaranNya tentang kitab Taurat, namun sekali mereka tetap menolak Yesus. Bagi mereka Yesus tetap tidak masuk hitungan karena profesinya adalah tukang kayu dan berasal dari keluarga yang miskin.

Sebuah penolakan yang bukan dikarenakan Tuhan Yesus telah melakukan penyesatan dan membuat orang melawan Allah, tetapi karena pekerjaan yang DIA kerjakan dan latar belakang orangtuaNya.  

Firman Tuhan berkata didalam Efesus 1: 5 “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”

Tidaklah penting apa yang kita kenakan, entah itu  pakaian yang mewah ataupun tidak, atau pekerjaan kita pekerjaan yang bergengsi atau tidak. Yang terpenting adalah bahwa kit aini disebut sebagai anak-anak Tuhan. Itulah identitas diri kita sebagai orang percaya, yaitu anak-anak Tuhan.

Rekan-rekan Youth

mari kita membangun identitas atau nilai diri kita dengan melakukan kebenaran Firman Tuhan, bukan dengan kebenaran dunia. Dengan melakukan kebenaran firman Tuhan, akan membuat identitas atau nilai diri kita menjadi berkenan dimataNya.

Ketika kita menyadari betapa kehidupan kita berharga dan mulia, tentunya kita punya tanggung jawab untuk hidup dalam nilai-nilai yang benar dan tidak sembarangan. Karena bagaimanapun dan apapun yang kita kerjakan ingatlah ada “branded” Tuhan dalam kehidupan kita.

Komitmenku Hari ini :

ketika saya merasa tidak berharga, tidak dihargai orang lain, saya mau terus belajar mengingat bahwa saya diciptakan berharga oleh Allah yang menciptakan semesta yang megah, yang mengasihi saya bahkan melebihi saya mengasihi diri sendiri.

Tuhan Yesus Memberkati…

YG – DOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *