Elohim Ministry umum Jangan Kehilangan Kasih yang Semula

Jangan Kehilangan Kasih yang Semula



Renungan Harian Jumat, 02 Desember 2022

Kasih semula/ kasih yang mula-mula, bisa kita ibaratkan kasih dalam suasana “jatuh-cinta”. Jika Anda pernah mempunyai kekasih, Anda tentu bisa merasakan suasana kasih ketika sedang jatuh-cinta. Kasih semula menampakkan dirinya sebagai kasih yang murni, tidak campur aduk dengan yang lain. Karena itu, dia juga hangat, menggetarkan serta bersifat spontan, jauh dari sikap pura-pura atau rekayasa. Kasih semula tidak pernah mau menyakiti serta rela berkorban tanpa merasa berkorban, memberikan apa saja demi yang dikasihinya. Yaitu kasih yang menggelora, kasih yang menutup segala sesuatu, dan kasih yang hanya tertuju kepada yang dikasihi.

Tujuan ~  Menyadarkan setiap orang percaya bahwa kasih kepada Tuhan dalah motivasi terbesar diatas pemahaman doktrin dan pelayanan. Dengan demikian setiap orang percaya diharapkan selalu memelihara kasih mula mula

Belajar Dari Jemaat Efesus ~ Wahyu 2:1-7

“AKU tahu segala pekerjaanmu; baik jerih payahmu maupun ketekunanmu.”

  1. Pekerja keras.
  2. Tekun.
  3. Tidak sabar terhadap orang jahat.
  4. Dapat mengkaji dan mendapati rasul palsu.

Sebuah penilaian sempurna bagi jemaat Tuhan dengan kualitas demikian.

Mereka mengira bahwa semua yang mereka lakukan itu menyenangkan hati Tuhan. Namun Tuhan Yesus berkata melalui Rasul Yohanes “Aku mencela engkau, hai jemaat Efesus! Karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula!” (Wahyu 2:4).

Sudah bagus namun mengapa harus ditegur dan dicela?

Keadaan jemaat Efesus pada mulanya.

Jemaat di Efesus memiliki kasih yg sangat berlimpah (Efesus 3:14) mereka saling mengasihi dan hidup dalam kekeluargaan yg sangat akrab.  Ini adalah surat Paulus yang pertama bagi jemaat Efesus pada awal tahun 60. Namun di akhir abad 1 yaitu tahun 90an, jemaat Efesus mendapatkan surat teguran dari Tuhan melalui Rasul Yohanes. Dimana jemaat Efesus telah Kehilangan KASIH mula-mula dan hal itu adalah kejatuhan yang terdalam.

Mengapa kasih yang mula-mula menjadi standard ukuran orang percaya yang harus selalu dijaga ?

Karena seseorang yang telah kehilangan kasih mula mula tidak lagi menempatkan Allah menjadi fokus penyembahan dan pelayanannya

Saat Yohanes menulis surat teguran ini, generasi kedua dari jemaat Efesus ini hanya memiliki sisa-sisa kejayaan rohani. Memang mereka masih memiliki doktrin yang kuat, bahkan mungkin lebih solid lagi; memang mereka masih mampu menyeleksi setiap ajaran sesat, seperti ajaran bidat Nikolaus (ay. 6), Pengikut Nikolaus mengajarkan bahwa penyembahan berhala, percabulan tidak akan mempengaruhi keselamatan seseorang dalam Kristus.

Ini adalah pengajaran sesat karena kitab Perjanjian Baru mengatakan hal yang sebaliknya yaitu bahwa orang yang hidup dalam percabulan tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Korintus 6:9-10)

Namun justru dalam keadaan demikian mereka dicela oleh Allah.

Persoalannya bukan terletak pada isi kepala mereka, tetapi pada isi hati mereka, dimana kasih mereka telah pudar. Hal itu mengindikasikan bahwa Allah tidak lagi menjadi fokus hidup mereka.

Karena seseorang yang telah meninggalkan kasih mula mula tidak lagi mempunyai kepekaan untuk mendengar terguran Allah. Ada dalam KEDEGILAN

Di tengah-tengah badai pencobaan itu, jemaat Efesus masih tetap bertahan dan memegang panji Kristus. Karenanya, wajarlah bila kita membayangkan bahwa sampai ayat ini jemaat Efesus bersyukur dan berbangga menerima pujian Tuhan.

Tetapi memasuki ayat ke-4 mereka terkejut sekali. Tuhan Yesus berkata, “Namun demikian, Aku mencela engkau.” Bahkan dalam ayat 5 sebuah ancaman keras yang ditujukan kepada mereka, “Jika kamu tidak bertobat, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya.”

Tetapi, karena mereka telah meninggalkan kasih semula, maka mereka tidak lagi peka untuk mendengarkan suara Allah yang menegur dan mengingatkan mereka. Hati mereka telah degil

Hasil kedegilan terhadap teguran yang tidak diperhatikan ~ Apabila melihat perkembangan jemaat Efesus pada masa sekarang Ini, maka di tempat dimana jemaat Efesus pernah berdiri [yg skrg adl Turki] jemaat Kristus / gereja Tuhan sulit untuk kita temukan. Jikalau adapun bukanlah jemaat yg menonjol.

Kasih mula mula akan menuntun orang percaya untuk menjalani proses Keselamatan dengan benar.

PROSES KESELAMATAN, memiliki 3 bagian tahapan yang harus dijalani dengan baik oleh setiap orang percaya

  • Tahap yang pertama adalah proses Justification yang artinya pembenaran. Pada proses pertama ini kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Kita mengalami kelahiran baru dan mengalami kasih mula-mula.
  • Tahap yang kedua adalah proses Sanctification yang artinya pengudusan.Dalam proses ini kita akan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus dan Firman Allah sehingga kita menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi murid Tuhan. Pada waktu memasuki tahapan Sanctification atau pengudusan ini, dengan berbagai macam alasan kualitas kasih kita kepada Tuhan yang tadinya penuh dengan kasih mula-mula bisa berubah menjadi seperti yang terjadi pada jemaat di Efesus.
  • Tahap yang ketiga adalah proses Glorification yang artinya pemuliaan atau pengangkatan. (berjumpa Tuhan dalam kekekalan ) Yang diangkat adalah mereka-mereka yang berubah menjadi serupa dengan gambar Yesus, yaitu murid Tuhan Yesus.

Elohim Family Fellowship – EFF 01 Desember 2022
Pdt. Budi Wahono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *