Elohim Ministry umum Jangan Takut Percaya Saja

Jangan Takut Percaya Saja



Renungan harian Rabu, 25 Oktober 2023

Bacaan: 2Tawarikh 20:1-30 dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. (ay.15)

Bani Moab dan bani Amon sedang berperang dengan orang-orang Israel, Yosafat mengalami kesulitan menghadapi mereka. Orang-orang Israel secara keseluruhan jelas kalah dari segi jumlah orang-orangnya. Kelihatannya akan terjadi satu bencana! Alkitab katakan bahwa Yosafat merasa takut.

            Apakah kita merasa takut hari-hari ini? Mungkin kita sedang diperhadapkan dengan masalah-masalah yang rumit dan kita merasa kesulitan dalam menghadapinya. Atau kita sudah merasa tidak mampu lagi menghadapinya. Mari kita belajar dari kisah Yosafat ini dan melakukan apa yang Yosafat lakukan untuk bisa menghadapi masalah yang membuat kita takut.

Ayat 4-11 Yosafat dan orang-orang Yehuda  berdoa kepada Tuhan, dan di ayat 12 mereka mengakui kelemahan mereka: tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar itu; tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yosafat mengalihkan perhatiannya untuk mencari Tuhan. Dia bahkan menyerukan puasa di seluruh Yehuda. Inilah tanggapannya yang pertama atas ketakutan dan kecemasan yang dia rasakan. Dia arahkan rasa percayanya kepada Allah.

Ada beberapa hal yang Yosafat kerjakan dalam menghadapi ketakutannya:

  1. Menyadari kita lemah.

Yosafat mengakui bahwa dia tidak berdaya dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Mengakui bahwa kita adalah lemah dan Dia kuat! Mari tanggalkan kekuatan kita, dan beritahukan kepada Yesus bahwa kita adalah seorang anak kecil yang lemah. Kemudian puji Allah bahwa Dia kuat!

  • Fokus kepada Allah.

Ketika Yosafat berkata, mata kami tertuju kepada-Mu,” bahwa kalimat ini tidak hanya menerangkan posisi fisik, tetapi satu bentuk hati. Ketika mata kita tertuju kepada Tuhan, mereka bukanlah memelototi keadaan. Dalam ayat 15-17 yang berperang adalah Allah sendiri, bukan Yosafat, dan Tuhan akan menyertainya.

  • Mengenali siapa yang berperang.

Ukuran kedewasaan rohani seseorang adalah seberapa cepatnya orang mengenal bahwa peperangan itu urusan Tuhan dan bukan urusan kita. Selang waktu di antara keadaan yang sulit dan kesanggupan kita untuk percaya adalah ukuran kematangan kita, saat kita diproses. Sungguh janji yang menyejukan hati, “Tuhan yang akan berperang bagi kita.”

            Saat kita mengarahkan telinga kita kepada Tuhan, kita akan mendengar suara-Nya yang lembut berkata, “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu (2 Tawarikh 20:15, 17).” Mari, tinggal tenanglah dalam janji-Nya, biarkan Tuhan yang berperang bagi kita. Itu artinya, jadikan Firman Tuhan sebagai panduan kita membuat keputusan dan ikutilah cara Tuhan dalam menyelesaikan masalah-masalah kita. Kita akan melihat hasil yang berbeda ketika membiarkan Tuhan yang maju berperang. Dia akan mengubah medan pertempuran kita menjadi lembah pujian.

Tuhan Yesus Memberkati.

CM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *