Renungan Harian Youth, Kamis 06 Juli 2023
Kita semua disini tentu sangat memahami kata “bahagia.” Berbahagia/bahagia adalah kondisi yang sangat diinginkan oleh setiap orang. Dan setiap orang memberikan susunan atau pegangan yang positif tentang kata ini menjadi sebuah arah/prinsip dalam hidup ini. “Jangan Lupa Bahagia,” “Bahagia itu Sederhana,” “Bahagia itu kita yang ciptakan,” dsb. Di dalam Alkitab juga, Tuhan Yesus memberikan ucapan-ucapan bahagia yang sebenarnya bertujuan untuk memberikan kekuatan dan semangat bagi orang Israel kala itu yang sedang dalam kondisi dijajah dan sedang menantikan Mesias yang telah dijanjikan untuk mereka. Salah satu ucapan bahagia yang diucapkan adalah:
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
– Matius 5:5
Berbahagia adalah suatu keadaan sedang bahagia. Berbahagia juga berarti menikmati suasana yang membahagiakan dan menyenangkan. Berbahagialah artinya sebuah harapan untuk menikmati suasana atau keadaan yang benar-benar menyenangkan hati, membahagiakan dan tidak ada kesusahan atau penderitaan. Sedangkan lemah lembut pada umumnya dimaknai baik hati, peramah dan tidak pemarah. Seseorang yang lemah lembut adalah orang yang halus budi bahasanya. Orang yang lemah lembut adalah orang yang baik hati dan halus budi pekertinya. Ia tidak pemarah, tidak bengis, tidak sombong, tidak angkuh dan tidak tinggi hati.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan lemah lembut sebagai baik hati dan peramah (tidak pemarah). Itu artinya, lemah lembut hanya dikaitkan dengan sikap hati dalam hubungannya dengan orang lain. Namun dalam Alkitab Perjanjian Baru (PB), lemah lembut (kata benda prautes dan kata sifat praus) menunjuk kepada sikap batin. Kata PRAUS juga digunakan terhadap binatang yang sudah dijinakkan / dikuasai sehingga tunduk sepenuhnya kepada pemilik / majikannya. Jadi dalam arti yang kedua ini orang yang PRAUS adalah orang dikuasai / tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.
Ketika kita membayangkan seseorang yang lemah lembut, siapa yang ada dalam benak kita? Bagaimana bayangan karakter orang tersebut? Kebanyakan orang sering mengasosiasikan orang yang lemah lembut dengan orang yang lemah. Apakah asumsi ini benar?
Seorang hamba Tuhan bernama Todd Wilson menuliskan demikian, “Kelemahlembutan adalah ekspresi kekuatan, kualitas karakter yang berakar pada kepercayaan diri yang dalam, serta pengendalian diri. Kelemahlembutan menghasilkan ketenangan pikiran, kemantapan jiwa, keheningan hati, meski di tengah kritik atau perlakuan buruk dari orang lain. Kelemahlembutan bukanlah tanda-tanda orang lemah, melainkan mereka yang kuat, sebuah ciri yang jarang kita lihat di dalam dunia yang kompetitif, pendendam, dan kasar ini.” Kelemahlembutan adalah salah satu karakter dari buah roh dan berkaitan erat dengan pengendalian diri.
Orang yang Lemah Lembut Memiliki Bumi
Oleh sebab itu, berbahagialah kita yang mendapatkan pembelajaran Firman Tuhan saat ini. Bahwa : “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”
Berbahagialah orang yang selalu mengutamakan kelemahlembutan dalam menjalani setiap langkah kehidupannya. Berbahagialah orang yang senantiasa baik hati, sabar, halus dalam bertutur kata dan tidak mudah marah dalam semua situasi dan kondisi.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi dapat dimaknai bahwa orang yang senantiasa baik hati, sabar, halus dalam bertutur kata dan tidak mudah marah dalam semua situasi dan kondisi akan menikmati suasana yang sungguh membahagiakan dan menyenangkan hati.
Orang seperti inilah yang dinyatakan oleh Tuhan akan memiliki bumi.
Kelemahlembutan berarti menghadapi sebuah perlawanan dan penolakan dengan kesabaran serta pengampunan, dan bukan dengan balas dendam. Kelemahlembutan juga bisa diekspresikan dengan merespons tuduhan dengan sikap diam yang tenang, bukan dengan protes keras. Di dalam diam tenang, kita berdoa bagi mereka yang yang telah memojokkan kita, sama seperti Yesus berdoa kepada Bapa bagi mereka yang menganiaya-Nya. Dan ganjaran dari kelemahlembutan yang tunjukan dalam diri kita adalah bahwa kita akan memiliki bumi.
Dengan kata lain menjadi seorang yang mewarisi/memiliki bumi, mapu menguasai hal terbesar yang ada di dalam diri ini. Itu bukan hanya berbicara kekayaan dan kekuasaan dunia yang kita miliki. Lebih dari itu adalah mampu menguasai ego kita untuk tetap dalam kelemahlembutan yang Tuhan ingin untuk selalu ada di dalam diri kita…
seperti pengalaman kepemimpinan yang dijalani oleh Musa….
“Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” (Bilangan 12:3).
Bayangkan pergumulan emosional yang dihadapi Musa dalam memimpin bangsa yang keras kepala dan tegar tengkuk ini selama 40 tahun. Itu tentu sangat tidak mudah. Disindir, dihina, dilawan, itu sudah menjadi makanannya sehari-hari meski bangsa yang dipimpinnya ini sudah berulang kali menyaksikan langsung bagaimana Tuhan menyertai mereka secara nyata. Tapi Musa bisa menahan diri hingga sekian lama.
Menahan diri agar tetap lemah lembut memang tidak mudah. Berbagai situasi dan kondisi bisa dengan cepat membuat amarah kita meluap. Ada begitu banyak orang-orang sulit disekitar kita yang akan terus memprovokasi kita lewat perkataan maupun perbuatan mereka. Sebagai anak-anak Tuhan hendaklah kita tidak terpancing dan tetap tenang. Miliki hati yang sepenuhnya berpegang pada Tuhan, miliki hati yang lembut yang siap dibentuk, dan cepat atau lambat dunia akan melihat bahwa ajaran kasih dalam Kekristenan sungguh mampu membawa perbedaan ke arah yang lebih baik.
Menjadi pribadi lemah lembut yang penuh kasih adalah sikap yang harus dimiliki orang percaya
Letak kekuatan kita sebenarnya ada pada sikap hati kita yang lembut.
Amsal 16:32, Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merbut kota.
Amin. Tuhan Yesus Memberkati
RM – SCW