Renungan Harian Youth, Kamis 12 Juni 2025
Markus 8:34-35 PBTB2, Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.“
Menjadi seorang murid Yesus berarti harus mengikuti Yesus secara total, tidak boleh tanggung. Dengan kata lain pusat hidupnya adalah Yesus itu sendiri. Kesungguhan mengikut Yesus nampak dari sikap penyerahan seluruh hidup kepada Yesus bahkan siap menjadi martir. Allah menciptakan manusia dengan memiliki kehendak bebas, bukan dalam keadaan terjajah. Tetapi sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia memilih untuk hidup sebagai hamba, hamba dosa. Manusia terjajah oleh iblis dan dosa berkuasa atas manusia. Upah dosa adalah maut, sehingga manusia tidak punya kuasa untuk merdeka atas maut. Karena sejak kejatuhan manusia pertama di dalam dosa, dosa menjadi sebuah natur yang terikat dengan hakekat seorang manusia.
Tetapi bagi kita Yesus rela mengorbankan segalanya demi dunia. Dia menanggung hukuman atas dosa kita sehingga kita dapat mengenal Tuhan secara intim untuk selama-lamanya. Dan ketika Dia bangkit dari kematian, Dia memungkinkan kita untuk memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya.
Yesus telah membuka jalan bagi kita untuk mengenal-Nya, tapi kita harus memilih apakah kita akan mengikuti-Nya atau tidak.
Ada seorang Theolog bernama Charles E.B. Carnfield berkata “ penyangkalan diri yang sesungguhnya adalah berpaling dari berhala hati yang berpusat pada diri sendiri “. Ini sangat bertolak belakang dengan dunia dan zaman modern ini di mana semua orang sangat menekankan self-esteem, self-fulfillment, selfworth, self-actualization dan berbagai penekanan yang mengutamakan diri sendiri. Yang menyedihkan bahwa filosofi dunia ini juga merebak di pengajaran-pengajaran Kristen yang menaruh diri sendiri atau manusia dalam poros pengajaran tersebut sehingga apapun yang kita lakukan maka tujuannya adalah untuk memperkaya diri, membuat diri berbahagia, mengalami mujizat namun ujungnya bukan Tuhan tetapi diri sendiri. Itu sebabnya Yesus mengatakan supaya kita menyangkal diri sebab sumber masalah yang terjadi di dunia ini adalah manusia atau diri kita sendiri. Banyak masalah yang terjadi karena seseorang terobsesi dengan diri sendiri dan mementingkan diri.
Yeremia 17:9 berkata tentang hati manusia : “ Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Roma 3:10-12 “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak
Rekan-rekan youth, kalau Yesus mengundang kita untuk memikul salib artinya mengikut salib itu sarat dengan penderitaan. Memikul salib itu tujuannya bukan untuk menerima keselamatan namun waktu berbicara tentang salib maka waktu kita hidup dalam Kristus, untuk Kristus dan untuk kemuliaan Tuhan maka ada kemungkinan kita akan mengalami tekanan, penganiayaan dan ketidakadilan.
Apa sesungguhnya arti memikul salib kita? Bagi Yesus, salib adalah suatu objek tempat di mana Dia menderita dan mati. Salib adalah beban fisik yang juga melambangkan beban rohani yang Dia pikul. Salib juga melambangkan penderitaan dan penyerahan diri yang kita semua pilih untuk ditanggung demi mengenal dan menaati Kristus.
Yesus memanggil kita untuk menyangkal diri dan memikul salib. Namun Dia bukan hanya memanggil kita tetapi melakukannya dengan sempurna untuk kita, sehingga kalau kita hidup dalam Dia maka kita juga dimampukan untuk melakukannya. Melalui Kristus kita tidak lagi hidup disiksa oleh dunia dan berhala-berhala tetapi hidup untuk kemuliaan Tuhan.
Menyangkal diri dan memikul salib disini yang dimaksudkan Menanggalkan manusia lama karena kita sudah mati bersama Kristus dan Mengenakan manusia baru dengan kuasa kebangkitan di dalam Kristus.
Tim Keller berkata “ Kerendahan hati yang berdasarkan injil adalah berkat melupakan diri sendiri, bukan berarti jadi dermawan merendah supaya ditinggikan seperti budaya modern atau menjadi orang yang meninggalkan kenikmatan dunia menjadi biarawan bertapa untuk meninggalkan kedagingan seperti tradisi timur tetapi sesederhana yaitu saya tidak terlalu memikirkan diri saya lagi karena karena saya memandang kepada Kristus dan Kristus adalah identitas saya “
Para rasul memandang penderitaan sebagai sebuah kesempatan untuk mengenal Yesus dengan lebih baik, tetapi budaya kita mengatakan bahwa penderitaan adalah penghalang untuk mendapatkan kesenangan seketika. Yesus berkata bahwa menyerahkan hidup kita kepada-Nya itu penting karena Dia adalah jalan menuju hidup yang kekal, tapi dunia mengatakan bahwa mementingkan diri sendiri adalah pintu masuk untuk hidup berkelimpahan.
Memikul salib berarti menyerahkan hak kita untuk hidup sesuka hati. Itu berarti membiarkan Yesus mengarahkan arah hidup kita, dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang kita kejar di atas segalanya. Ironisnya, jika kita menolak untuk memikul salib dan mengikut Yesus—kita akan tetap menderita. Kita tetap akan mengalami kesulitan. Tetapi kita juga akan kehilangan karunia-karunia kekal yang Yesus tawarkan kepada kita sebagai ganti dari kesenangan dan kenyamanan sesaat.
Tuhan tidak ingin kita hanya menjadi orang percaya yang hadir di dalam gedung gereja dan mengikuti aktivitas di gereja, namun Tuhan ingin kita menjadi murid-Nya yang sejati, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – SCW