Elohim Ministry youth PENDENGAR YANG BAIK

PENDENGAR YANG BAIK



Renungan Harian Youth, Sabtu 09 Juli 2022

Amsal 18: 13, Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

Berbicara mendengar mungkin sudah tidak asing lagi bagi setiap pribadi dalam bereaksi dan berespon. Seringkali ketika seseorang telah tenang dan mampu berfikir jernih, dia baru sadar bahwa ada banyak tindakan bodoh yang telah dilakukan hanya karena belum mengembangkan sikap yang mendegar. Setelah semuanya terjadi dan merenungi kembali mungkin saja baru terbesit keinginan untuk merubah semuanya. Tetapi apa daya semuanya telah terjadi dan seandainya seseorang bisa mengembalikan waktu mungkin ia tidak akan mengulanginya. Inilah suatu gambaran dari jati diri seseorang yang sering ceroboh dan takabur yang pada akhirnya sama sekali tidak memberikan arti bagi orang lain dan malahan sebaliknya merugikan diri sendiri.

Salah satu masalah manusia adalah kebiasaan kita memperbaiki sesuatu. Waktu kita melihat masalah, kita terdorong untuk ikut campur menyelesaikan masalah itu. Tapi tahukah teman-teman kalau kebiasaan ini rupanya kurang tepat. Tuhan mau kita jadi pendengar lebih dulu sebelum maju menjadi pemecah masalah. Dia mau kita merasakan lebih dulu rasa sakit yang dialami seseorang sebelum kita ikut menjadi penengah atas masalah orang lain.

Amsal 18: 13 berkata bahwa seseorang yang menjawab sebelum mendengar adalah suatu kebodohan. Tampil sebagai ‘pemecah masalah’ tanpa mengetahui lebih dulu duduk persoalan dengan mendengarnya, sama sekali bukanlah bentuk kasih. Setiap orang butuh didengarkan. Mereka juga ingin merasa dicintai dan dipahami.  Ada pemulihan ketika kita berbagi emosi dengan orang lain. Dan telinga kita adalah alat penyembuh yang Tuhan pakai supaya kita lebih dulu menjadi pendengar yang baik, bukan sekadar pemecah masalah yang muncul secara tiba-tiba.

Mendengarkan orang lain harus mencerminkan perhatian kita terhadap Tuhan dan Firman-Nya.

Waktu Yesus mendengar bahwa teman dekatnya Lazarus sakit, Dia justru menunggu selama tiga hari untuk melakukan perjalanan, yang sebenarnya bisa ditempuh kurang dari sehari perjalanan. Saat Yesus tiba, Lazarus sudah meninggal. Saudari-saudarinya, Marta dan Maria, dengan penuh duka menyesalkan keterlambatan Yesus. Karena mereka percaya jika Yesus tiba lebih awal, Lazarus tidak akan mati. Tindakan Yesus yang menunda kedatangan-Nya mungkin terdengar sangat menjengkelkan. Tapi itu adalah rencana-Nya. Dia melakukan hal itu untuk satu tujuan besar. Dia tidak hanya sekadar menyembuhkan Lazarus. Dia mau membangkitkannya dari kematian  untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Dia sudah tahu apa yang akan dilakukan bahkan sebelum Lazarus sakit.

“Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!”” (Yohanes 11: 33-35)

Yesus bukan tidak peduli dengan kesedihan mereka. Dia bahkan ikut merasakan kehilangan bersama orang-orang yang menangisi kematian Lazarus. Dia ikut merasakan kesedihan itu dan berbagi perasaan yang sama dengan mereka. Rasa empati inilah yang Yesus ingin bagikan, bukan solusinya. Kita mungkin tahu solusi menyelesaikan masalah orang lain. Tapi ada kalanya untuk menahan diri dan hanya bertindak sebagai pendengar yang baik. Yang orang lain butuhkan adalah saat kita menyendengkan telinga untuk mendengar curahan perasaan orang lain.

Tuhan memiliki begitu banyak hal yang ingin Dia ajarkan dan beritahukan kepada kita.

Mendengarkan perlu kerja keras, dan butuh waktu. Butuh waktu untuk mendengarkan cukup lama untuk mendengar hati orang lain yang sebenarnya, sehingga jika kita berbicara, kita berbicara dengan kebijaksanaan yang lembut.  Saat kita mengambil waktu hening hari ini dan memberikan telinga untuk mendengarkan-Nya, kita akan lebih mampu mendengarkan orang-orang yang terluka di sekitar kita.

Sebuah kutipan mengtakan, “Anda dapat memenangkan lebih banyak teman dengan telinga Anda daripada dengan mulut Anda. Keheningan yang penuh seringkali lebih baik daripada ucapan yang fasih.”  Kita juga perlu lebih banyak mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita.

Sering kita terlalu banyak berbicara kepada Tuhan, tapi kita lupa memberi banyak waktu untuk diam dan mendengar Tuhan berbicara kepada kita.

Firman Tuhan dengan sangat jelas memberikan perhatian kepada sikap manusia dalam hal mendengarkan. Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; – Yakobus 1:19.  Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” – Matius 4:4. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. – Roma 10:17

Rekan-rekan youth, Intinya Sederhana. Tuhan memiliki banyak hal untuk dikatakan kepada kita dan karena Dia adalah Tuhan yang maha bijaksana dan berdaulat dan karena kemanusiaan kita yang terbatas serta kejatuhan kita, sangat penting bagi kita untuk mendengarkan dengan seksama.

Menjadi pendengar yang baik adalah bentuk dari kasih dan kepedulian kita kepada orang lain. Jadi hari ini mari belajar untuk jadi pendengar dan tundalah dirimu untuk selalu tampil sebagai pemecah masalah.

Amin. Tuhan Yesus Memberkati

RM-ADs

PENGUMUMAN

Kami mengundah rekan-rekan semuanya untuk bisa hadir dalam Youth Celebration yang akan diadakan pada hari SABTU, 09 Juli 2022 jam 17.00 di Gedung Gereja Elohim Batu

Tema youth celebration kita minggu ini adalah RECONNECTING … supaya kita saling terhubung Kembali satu dengan yang lainnya

Yuk dateng semuanya ya, jangan sampe ketinggalan … kita mau beribadah, memuji Tuhan bersama dan tentunya kita akan saling bertemu bersukacita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *