Renungan Harian Jumat, 02 Agustus 2024
Selaras ketika ada dalam keseimbangan, semua manusia membutuhkan ketenangan, tidak takut, tidak kuatir, tidak gelisah, bahagia, penuh DAMAI SEJAHTERA
DAMAI SEJAHTERA
Tidak ada damai di bumi, jika tidak ada damai diantara bangsa
Tidak ada damai diantara bangsa, jika tidak ada damai di tiap tiap negara.
Tidak ada damai didalam negara, jika tidak ada damai di hati rakyatnya.
Tidak ada damai di hati rakyat, jika hidupnya tidak diserahkan ke tangan Sang ‘Raja Damai’.
Demikian ungkap Heyden Robinson, penulis buku Salt And Light.
Yeremia 33:6, “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan, dan Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah.”
DAMAI SEJAHTERA. Istilah Ibrani yang digunakan untuk damai sejahtera ialah “ Shalom “
Makna dasar Shalom ialah keserasian, keutuhan, kebaikan, kesejahteraan, dan keberhasilan.
- Damai sejahtera dapat mengacu kepada ketenangan serta perdamaian antara dua negara yang bertikai, 1 Samuel 7 : 12-14, 1 Raja Raja 4 : 24
- Damai sejahtera juga dapat mengacu kepada perasaan mapan dalam suatu bangsa, seperti pada masa kemakmuran dan tidak ada perang, 1 Tawarikh 22 : 9Damai sejahtera dapat dialami sebagai keutuhan dan keselarasan dalam hubungan antar manusia, baik dalam rumah tangga, Amsal 17 : 1, maupun dengan sesama, Roma 12 : 18, Ibrani 12 : 14.
- Damai sejahtera dapat mengacu kepada perasaan pribadi seseorang bahwa semua lengkap dan sejahtera, bebas dari kekuatiran dan merasa tenteram dalam jiwanya, Mazmur 4 : 9, Bilangan 6 : 26, Roma 5 : 1
Akhirnya, Shalom melukiskan dunia ciptaan asli yang berada dalam keselarasan dan keutuhan sempurna. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan dunia yang tenteram dan damai. Kesejahteraan menyeluruh akan ciptaan ini terungkap di dalam pernyataan yang ringkas, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” Kejadian 1 : 31
Hilangnya DAMAI SEJAHTERA
Damai sejahtera tidak dapat dipisahkan dari kebenaran. Damai sejahtera dan kebenaran selalu berjalan beriringan. Itu berarti jika tidak ada kebenaran, maka tidak akan ada damai sejahtera. Hanya jika ada kebenaran maka ada damai sejahtera.
Ketika Adam dan Hawa mendengarkan suara ular dan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, kejadian 3:1-7, ketidaktaatan mereka menghadirkan dosa dan mengacaukan keselarasan semula dari ciptaan. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Adam dan Hawa mengalami rasa bersalah dan malu di hadapan Allah (3:8) dan kehilangan damai sejahtera dalam hati. Dosa Adam dan Hawa di Taman Eden merusak hubungan mereka dengan Allah. Sebelum memakan buah itu, mereka memiliki persekutuan intim dengan Allah di taman itu, tetapi setelah dosa itu “bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman” (3:8), mereka kini takut mendengar suara-Nya (3:10). Hubungan komunikasi antara Adam dan Hawa sebagai suami istri terganggu. Adam menyalahkan Hawa (3:12), demikian dimulailah konflik sosial yang dewasa ini merupakan bagian kesulitan umat manusia, mulai dari percekcokan dan kekerasan di dalam rumah tangga
Akhirnya, dosa mengacaukan hubungan antara manusia dengan alam. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, dengan sukacita ia bekerja di Taman Eden (kejadian 2:15) dan dengan bebas berjalan di antara hewan, memberi nama kepadanya (kejadian 2:19-20). kejatuhan dalam dosa berdampak permusuhan antara Adam dan Hawa terhadap ular (kejadian 3:15), dan bekerja dengan peluh dan kelelahan (kejadian 3:17-19).
PEMULIHAN DAMAI SEJAHTERA
Ketika akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa adalah kehancuran kesejahteraan dan kedamaian manusia, bahkan berdampak kepada alam ciptaan
NAMUN, Allah merencanakan pemulihan SHALOM; melalui KARYA PENEBUSAN Kristus di Kayu Salib.
- Karena Iblis yang memulai pekerjaan penghancuran kedamaian manusia, maka pemulihannya harus mencakup pembinasaan Iblis dan pekerjaannya.
PERJANJIAN LAMA banyak menceritakan tentang kedatangan Mesias sebagai janji akan datangnya kemenangan dan damai sejahtera.
Yesaya bernubuat bahwa Mesias akan memerintah sebagai Raja Damai (Yes 9:5-6).
Yehezkiel meramalkan bahwa perjanjian baru yang hendak didirikan Allah melalui Mesias akan menjadi perjanjian damai sejahtera (Yeh 34:25; 37:26).
Mikha, ketika menubuatkan kelahiran pemimpin yang akan datang di Betlehem menyatakan bahwa “dia menjadi damai sejahtera” (Mi 5:4).
- Pada waktu kelahiran Yesus, malaikat mengatakan bahwa damai sejahtera Allah telah turun ke bumi (Luk 2:14).
Yesus datang untuk membinasakan pekerjaan Iblis (1Yoh 3:8) dan merobohkan semua rintangan pertentangan yang merupakan bagian dari kehidupan kita, sehingga mendatangkan damai (Ef 2:12-17). Yesus memberikan damai sejahtera-Nya kepada semua murid-Nya sebagai warisan kekal sebelum Ia disalibkan (Yoh 14:27; 16:33).
Oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melucuti senjata semua kekuatan dan penguasa musuh dan menghadirkan kembali kedamaian (Kol 1:20; 2:14-15; bd. Yes 53:4-5). Karena itu, pada saat kita percaya kepada Yesus Kristus, kita dibenarkan oleh iman dan berdamai dengan Allah (Rom 5:1).
- Kristus datang sebagai Raja Damai, dan untuk mengalaminya kita harus dipersatukan kembali dengan Kristus.
Langkah awal ialah dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sehingga kita dibenarkan oleh iman (Rom 3:21-28; 4:1-13; Gal 2:16) serta berdamai dengan Allah (Rom 5:1). Selanjutnya kita hidup dalam ketaatan kepada perintah-perintah-Nya agar dapat hidup dalam damai (Im 26:3,6). Roh Kudus diberikan kepada kita, untuk menuntun kita menghasilkan buah-buah RohNYa di dalam diri kita, salah satunya ialah damai sejahtera (Gal 5:22; bd. Rom 14:17; Ef 4:3).
Kiranya damai sejahtera memerintah hati kita (Kol 3:15)
Yohanes 14:27, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Ada kekosongan yang dibentuk oleh Tuhan di dalam hati setiap manusia yang tidak dapat diisi oleh ciptaan apa pun, tetapi hanya oleh Tuhan, Sang Pencipta, yang dinyatakan melalui Yesus. – Blaise Pascal
Pdt. Budi Wahono
Bacaan Alkitab hari ini : Kitab 1 Tawarikh pasal 5 dan 6
https://elohim.id/bacaan-alkitab-jumat-02-agustus-2024/