Elohim Ministry youth RESPON UNTUK TUJUAN TUHAN BAGI KITA

RESPON UNTUK TUJUAN TUHAN BAGI KITA



Renungan Harian Youth, Maret 2024

Bahan bacaan: Markus 1:35-45

Ketenaran sering kali membuat seseorang terlau sibuk dan melupakan prioritas dalam hidup.  Jangankan seorang selebriti bergaji tinggi, sebuah pencapaian yang lumayan bagus dari seorang muda saja bisa membuat kesibukan menjadi suatu kompromi untuk mengesampingkan prioritas utama dalam hidupnya.  Dan ada terlalu banyak kasus dari orang muda yang tergiur dengan ketenaran dan mengalami star syndrome; tetapi bukan berarti kita bisa menggeneralisasikan kasus ini pada setiap anak muda, karna ada juga kok anak-anak muda yang tetap dalam track yang benar dan tidak kehilangan fokus pada prioritasnya di dalam hidup ini.  Pagi ini kita akan melihat ke dalam suatu kisah perjalanan Tuhan Yesus yang paham tujuan-Nya di dunia ini dan tidak terganggu dengan ketenaran sesaat ketika Dia ada di dunia ini; kemudian kita bisa bandingkan dengan respon murid-murid-Nya yang berniat memanfaatkan situasi mereka saat itu untuk kepentingan dan ketenaran mereka.

Simon dan kawan-kawan itu lagi cari Yesus. Inti carinya itu sebenarnya hanya mau sampaikan berita pada Yesus, “Semua orang mencari Engkau..” (Mrk 1:37). Wah, bukan hanya sebagian atau beberapa. Tapi semua orang. Bayangkan betapa Yesus telah tenar. Tetapi, jadi populernya itu karena apa kah? Sekian banyak orang telah disembuhkan Yesus. Pun setan-setan dan kuasanya dibuat tak berdaya. Tanda heran sungguh terjadi. Dan itu sudah menjadi alasan agar Ia dicari dan terus dicari. Mujizat adalah kegemparan yang mengandung eforia tak terbendung. Popularitas seperti ini tentu jadi jalan tol sekiranya Yesus benar-benar ingin cari dukungan suara untuk didaulat sebagai raja. Atau setidak-tidaknya bila Ia ingin jadi orang berpengaruh bagi kalangan orang Yahudi saat itu. Tetapi di hari setelah Yesus sembuhkan dan bebaskan penduduk Kaparnaum itu, Penulis Markus punya catatan serius.

Peristiwa di Bait Allah rupanya menjadi buah bibir di Kapernaum. Akibatnya, menjelang malam, seluruh penduduk kota berkerumun di depan pintu rumah Simon dan Andreas. Mereka membawa orang-orang yang sakit dan kerasukan setan (ayat 32). Bila seluruh penduduk kota minta dilayani, bisa dibayangkan berapa jam waktu yang diperlukan Yesus untuk menangani mereka.

Sampai keesokan pagi, orang Kapernaum masih mencari-cari Yesus. Murid-murid yang takjub dengan antusiasme penduduk kota jadi bersemangat mencari Yesus. Dengan antusias pula mereka memberitahu tentang orang banyak yang mencari-cari Dia. Namun respons Yesus di luar dugaan. Saat itu Yesus malah mengajak mereka pergi ke kota lain (ayat 38). Para murid tampaknya belum memahami misi Yesus di dunia ini: bukan untuk memenuhi keinginan orang banyak melainkan untuk menggenapkan rancangan Allah.

“…waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana” (Mrk 1:35). Ada pergerakan dari suasana populer yang ramai penuh hingar-bingar menuju alam sunyi penuh teduh; dari situasi terang menderang saat semua mata dapat tertuju memandang menuju keadaan ‘hari yang masih gelap,’ ketika sekian banyak orang masih lelap tertidur.

Yesus tak ingin jadikan DiriNya sendiri sebagai sentrum dari perhatian massa.

Dietrich Bonhoeffer, dalam bukunya The Cost of Discipleship menyimpulkan inti menjadi seorang murid, “Respons dari seorang murid adalah ketaatan, bukan pengakuan diri dalam Yesus.” Tidak cukup bagi seorang murid hanya percaya, ia harus taat pada perintah Sang Guru. Ketaatan seorang murid Kristus harus penuh dan mutlak.

Dalam perikop bacaan hari ini, kita melihat bagaimana seorang murid gagal menaati perintah Yesus dan akibatnya mendatangkan halangan dalam pemberitaan Injil. Yesus bangun pagi-pagi untuk berdoa di tempat yang sepi dan terpencil (ay. 35). Petrus dan kawan-kawan datang mencari Yesus dan memberitahukan kepada-Nya satu kabar, yang mereka pikir baik, “Semua orang mencari Engkau.” (ay. 37). Tak disangka Yesus justru menjawab, “Marilah kita pergi ke tempat lain,… supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Jelas disampaikan Yesus bahwa tujuan pelayanan-Nya bukan popularitas, tetapi pemberitaan Injil.

Yesus tetap tertuju pada tujuan kedatangan-Nya, dan mengejarnya dengan cermat. Ia juga tidak mau dipengaruhi oleh desakan atau bujukan orang-orang terdekat-Nya untuk mundur dari tujuan-Nya itu.

Kemudian diceritakan seorang kusta datang kepada Yesus dan berlutut memohon agar Dia mau menyembuhkannya (ay. 40). Yesus bersedia dan menyembuhkannya (ay. 41). Lalu Dia memberikan perintah keras agar jangan memberitahukan kejadian tersebut kepada siapa pun (ay. 44). Namun, orang sakit kusta yang disembuhkan ini justru pergi “memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana” (ay. 45). Ia berpikir ini hal yang baik dan membuat Yesus populer. Akibat ketidaktaatan para murid dan orang sakit kusta ini “Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi” (ay. 45). Yesus memang menjadi populer, tetapi kesempatan memberitakan Injil menjadi terhalang.

Rekan-rekan youth, setelah kita mengetahui tujuan hidup kita, sering kali teralihkan dari tujuan hidup kita oleh banyak faktor, dan hal yang dapat menjaga kita dalam tujuan Allah adalah doa. Kehilangan orientasi hidup dapat terjadi bila kita menja-dikan kepuasan orang lain sebagai tujuan hidup. Mungkin saja dengan begitu kita jadi disukai orang banyak dan populer. Namun apakah dengan jalan demikian kita sudah menyenangkan Allah? Lalu bagaimana cara agar kita tetap berjalan di jalur yang benar? Lihat apa yang Yesus lakukan. Ia menyediakan waktu untuk bersendiri dengan Allah guna mencari kehendak-Nya.

Tuhan Yesus menuntut setiap kita, murid-murid-Nya, memiliki ketaatan penuh pada perintah-Nya. Ketaatan bukan bertindak menurut hikmat manusia, melainkan bertindak seturut perintah Allah, sekalipun mungkin kita tidak mengerti mengapa harus menaati-Nya. Apa yang kita pikir baik menjadi tidak baik jika bertentangan dengan perintah Allah. Apa yang diperintahkan Allah bagi kita, sekalipun tidak kita mengerti, adalah yang terbaik bagi kita dan bagi kerajaan-Nya.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

RM-DOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *