Renungan Harian, Sabtu 28 September 2024
Baca: Ayub 2:1-13
Nats : Ayub 2:9-10
2:9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? m Kutukilah Allahmu dan matilah! 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? ” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Syalom bapak ibu saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . .
Setiap perkataan yang kita ucapkan baik secara lisan maupun tulisan memiliki salah satu dari dua konsekuensi berikut: menguatkan atau melemahkan, membangun atau meruntuhkan, menyembuhkan atau melukai, menghibur atau menyakiti, menghidupkan atau mematikan.
Begitu besarnya akibat yang bisa ditimbulkan oleh suatu perkataan sehingga ada banyak ayat firman Tuhan yang membahas tentang hal itu.
Demikian pula dengan istri Ayub yang berkata: “ Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu ? Kutukilah Allahmu dan matilah.” (istri Ayub mengutukinya). Awasilah mulut agar kita tidak berkata semena-mena terhadap penderitaan orang lain.
Kalau kita membaca cerita kisah Ayub, ketika ditimpa musibah dan kehilangan harta benda serta anak-anaknya. Ia menjadi tambah menderita ketika istri dan teman-temannya menganjurkan agar ia bertobat dan mengutuki Tuhannya lalu mati. Istri dan teman-temannya tidak mengerti kalau semua yang terjadi atas diri Ayub itu adalah ujian dari Tuhan.
Dan perkataan mereka menjadikan Ayub yang sedang menderita menjadi lebih menderita lagi.
Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang biasanya merupakan cerminan suasana hatinya yang dipengaruhi oleh situasi eksternal. Ketika sedang mengalami hal baik, seseorang akan mudah mengucapkan kata-kata yang positif. Sebaliknya ketika mengalami hal yang buruk, mengecewakan atau menyakitkan, maka kata-kata yang keluar cenderung negatif, kasar, dan berpotensi melukai orang lain.
Lewat kisah Ayub ini Tuhan memperingatkan kita untuk selalu menjaga mulut dan perkataan !! setiap kali kita melihat penderitaan orang lain. Karena kita tidak mengetahui mungkin orang tersebut sedang mengalami ujian iman dari Tuhan seperti Ayub.Karena perkataan dan sikap hati kita lebih banyak menyakiti sesama dan seringkali kita tidak sadar kalau ungkapan-ungkapan kita tidak membantu, tetapi lebih pada menghakimi dan menyakiti hati mereka….
Mungkin kita merasa lebih baik dari pada mereka, lebih benar, lebih suci, dll, sebab itu berhati-hatilah dengan ucapan kita, jangan menghakimi. Biarlah perkataan-perkataan kita yang keluar dr mulut kita memberikan kekuatan, pengharapan, penghiburan kepada mereka yang sedang dalam pergumulan hidup Berilah semangat bagi mereka yang sedang putus asa dan tawar hati.
Karena dari mulut kita keluar Berkat dan kutuk. Yakobus 3 : 10 “ Dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk.”
Efesus 4:29: “ Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yg baik untuk membangun dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia”.
Tuhan Memberkati
EW