Renungan Harian Youth, Jumat 11 April 2025
Shalom, rekan-rekan Youth yang Dikasihi Tuhan!
Pernahkah kamu meragukan Tuhan? Mungkin saat doamu belum dijawab, atau saat sesuatu terjadi tidak seperti harapanmu. Wajar, karena manusia memang terbatas. Namun, kita harus hati-hati, karena meragukan pribadi Allah bisa menjadi celah bagi si jahat untuk menanamkan benih kebohongan di hati kita.
Kita belajar dari kisah awal kejatuhan manusia di Taman Eden. Hawa jatuh dalam dosa bukan hanya karena dia tergoda buah terlarang, tetapi karena dia terlebih dahulu meragukan kebaikan Allah. Iblis membuatnya berpikir bahwa Allah menyembunyikan sesuatu yang baik darinya. Dengan satu pertanyaan licik, “Apakah Allah benar-benar berkata…?”
Iblis berhasil mengguncang kepercayaan Hawa kepada Allah. Dan sejak saat itu, keraguan terhadap kasih dan maksud baik Tuhan menjadi salah satu senjata utama Iblis untuk menjatuhkan umat-Nya.
📖 Ibrani 11:19 “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.”
Abraham: Iman yang Berdiri di Atas Karakter Allah
Berbeda dengan Hawa, Abraham menunjukkan iman yang luar biasa ketika diperintahkan untuk mempersembahkan anaknya, Ishak. Bisa kamu bayangkan betapa beratnya momen itu? Ishak adalah anak perjanjian, anak yang ditunggu-tunggu selama puluhan tahun. Namun ketika Allah memintanya untuk dipersembahkan, Abraham tidak menuduh Tuhan jahat atau kejam. Ia tidak meragukan karakter Allah.
Penulis Ibrani dalam pasal 11 menuliskan daftar tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama, dan salah satunya adalah Abraham. Dalam ayat 19, kata “berpikir” dalam bahasa Yunani adalah logizomai, yang berarti mempertimbangkan secara rasional dan mendalam, menghitung, memperhitungkan dengan matang berdasarkan alasan yang masuk akal.
Jadi, keputusan Abraham untuk tetap mempersembahkan Ishak bukan karena iman buta atau emosi sesaat, tapi karena kepercayaannya yang didasarkan pada pengenalan pribadinya akan karakter Allah yang setia dan berkuasa. Abraham memperhitungkan bahwa jika Allah menjanjikan keturunan dari Ishak, maka sekalipun Ishak mati, Tuhan pasti sanggup membangkitkannya kembali!
Frasa “seakan-akan telah menerimanya kembali” adalah pengakuan bahwa Abraham sudah siap kehilangan, namun dalam pengalamannya, ia mendapatkan kembali anaknya—karena Tuhan menyediakan pengganti (anak domba) sebagai korban bakaran (Kej. 22:13). Ini adalah tipologi atau bayangan akan pengorbanan Yesus, Anak Domba Allah yang menggantikan kita di kayu salib.
Iman Bukan Perasaan, Tapi Kepercayaan Pada Pribadi Allah
Kadang kita hanya percaya kepada Tuhan ketika segalanya berjalan lancar. Tapi ketika hidup menjadi sulit, kita mulai mempertanyakan: “Tuhan, Engkau di mana?” atau, “Tuhan, kenapa ini terjadi padaku?”
Rekan-rekan Youth, kita harus belajar dari Abraham bahwa iman sejati bukan berdasar pada situasi, tapi berdasar pada karakter Allah. Tuhan tidak pernah berubah. Dia baik, setia, dan penuh kasih. Dia bukan Allah yang membohongi umat-Nya. Bahkan saat kamu tidak melihat jalan keluar, jangan ragukan pribadi Allah. Jika Dia telah berjanji, Dia akan menepatinya. Bahkan, ketika segala hal terlihat mustahil, percayalah bahwa Allah sedang bekerja di balik layar.
Ketika Tuhan meminta Ishak dipersembahkan dalam Kejadian 22. Inilah ujian terbesar bagi Abraham. Ishak bukan hanya anak yang dicintainya, tetapi juga jaminan janji Tuhan. Namun Abraham tidak meragukan kasih Tuhan—sebaliknya, ia percaya bahwa Tuhan yang memberikan, juga mampu memelihara dan membangkitkan. Inilah yang dimaksud oleh Ibrani 11:19.
APA YANG BISA KITA PELAJARI DARI ABRAHAM? Iblis mungkin menggoda kita seperti Hawa—untuk meragukan kasih dan maksud baik Tuhan. Tetapi Abraham memilih berpikir benar tentang Allah. Ia mengenal Allah sebagai:
• Allah yang setia menepati janji-Nya.
• Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kematian.
• Allah yang tidak pernah merugikan umat-Nya.
Dalam masa sulit, kita juga sering berpikir, “Tuhan tidak adil… Tuhan diam saja… Tuhan telat…” Namun kebenarannya yang harus kita pegang adalah bahwa Tuhan tidak pernah gagal. Dia sedang bekerja, bahkan saat kita tidak melihat jalan.
Kalau Rekan-rekan masih bertanya, “Apakah Allah benar-benar mengasihi aku?” Lihatlah salib. Salib adalah bukti terbesar kasih Tuhan. Dia tidak menahan Anak-Nya yang tunggal demi menyelamatkan kita. Jika Allah sudah memberikan Yesus untuk menebus kita, masakan Ia akan menahan kebaikan-Nya atas hidupmu sekarang?
Apakah kamu sedang meragukan kasih atau kuasa Allah karena keadaan yang kamu alami? Apakah kamu lebih percaya pada logika atau pengalaman, Engkau dibandingkan pada janji Tuhan?
Yuk hari ini kita mau mengambil Langkah Iman kita Ingat kembali janji-janji Tuhan dalam firman-Nya, Doakan dan percaalah dengan iman bahwa percaya kepada karakter Allah: Ia baik, Ia setia, dan Ia tidak pernah gagal. Pilih untuk tetap taat, meskipun kamu belum melihat jawaban doa.
Hikmat Hari Ini:
Iman bukan berarti mengerti segalanya, tetapi memilih percaya pada karakter Allah yang tidak pernah berubah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, di tengah tekanan dan kebingungan hidupku, aku mau belajar untuk percaya seperti Abraham. Aku percaya Engkau adalah Allah yang setia dan tidak pernah menipu. Tolong aku untuk tidak meragukan kasih dan kuasa-Mu meski situasi tidak mudah. Aku percaya, Engkau sedang bekerja mendatangkan kebaikan bagiku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Tuhan Yesus memberkati dan menguatkanmu, sahabat muda! Jangan ragukan pribadi Allah—Dia setia, Dia peduli, dan Dia sanggup menolongmu. 🙏✨
YNP -TVP
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan