Renungan Harian Youth, Selasa 19 Agustus 2025
Pernahkah kalian merasa tidak yakin dan terbebani oleh keadaan kalian hadapi? Di saat-saat seperti ini, rasanya hampir mustahil untuk memuji Tuhan atas semua yang telah Dia lakukan.
Cobaan hidup seringkali mengaburkan pandangan kita, sehingga sulit untuk melihat melampaui pergumulan kita saat ini. Pernyataan Maria dalam Injil Lukas bukan semata-mata tentang berkatnya; itu adalah bukti karakter Tuhan yang tidak berubah.
Meskipun menghadapi ketidakpastian dan tantangan yang akan datang, dia menemukan kekuatan untuk mewartakan kebesaran Allah dan kekudusan nama-Nya:
“Karena Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya.”(Lukas 1:49 PBTB2). Secara keseluruhan, Lukas 1:49 adalah ungkapan iman dan pengakuan Maria akan kebesaran dan kekudusan Allah.
Sebelum Maria menyanyikan lagu magnificat ini, Maria baru saja bertemu dengan seorang malaikat yaitu Gabriel. Maria adalah seorang Yahudi sehingga dia tahu cerita Perjanjian Lama yaitu waktu dia kedatangan malaikat maka itu adalah sesuatu yang sangat spektakular. Peristiwa ini terjadi yaitu sesudah 400 tahun ada suara Tuhan datang kepada bangsa itu melalui seorang nabi yang bernama Maleakhi. 500 tahun sejak ada penampakan Malaikat yaitu jamannya Daniel,Sadrach, Mesach dan Abednego yaitu saat mereka dibuang ke dalam api karena tidak mau menyembah berhala dan mereka berjalan-jalan di tempat api dan ada penampakan orang ke 4 yang seperti Malaikat atau Tuhan dan beberapa menyebutkan mengenai Yesus sebelum inkarnasi.Dan sudah 800 tahun yaitu sejak mujizat terakhir terjadi yaitu jamana nabi Elisa. Jadi ini adalah Intertestamental year yaitu ada masa transisi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Waktu Tuhan sepertinya diam dan kita disuruh menunggu maka itu adalah hal yang sangat menggelisahkan. Memang adalah bagian rencana Tuhan untuk kita menunggu dan bagian dari rencana Tuhan untuk kita berproses dan percaya kepada Tuhan sekalipun mata kita tidak dapat melihatnya.
- Sekalipun kita tidak mempunyai semua jawaban, kita dapat menyatakan, “Kuduslah nama-Nya.”
- Sekalipun kita dihadapkan pada kesukaran yang mengancam mencuri pujian kita, kita dapat menyatakan, “Kuduslah nama-Nya,”
- Sekalipun beban rasa takut begitu menekan kita, kita dapat menyatakan, “Kuduslah nama-Nya.”
Karena itu teks ini menunjukkan sebuah gagasan bahwa Allah peduli dengan orang miskin atau orang kecil dan hina. Ketika Maria mengalami pergumulan, dia mengandung dari Roh Kudus sekalipun belum bersuami, tentu kekuatiran dan ketakutannya untuk dipermalukan akhirnya lenyap. Dia merasakan pertolongan Tuhan yang luar biasa, segingga dia mengaku: “Karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.” Karena rahmatnya dan karena Tuhan berbelas kasihan dimana Dia bukan hanya berkuasa dan kudus, tetapi Tuhan yang kudus dan berkuasa itu berbelas kasihan menghampiri kita yang rusak, jatuh dan menderita.
Tuhan menghampiri dan merengkuh kerapuhan manusia dengan memilih untuk menjadi yang terkecil, untuk mendekati ciptaaNya yang berdosa.
Dia maha kuasa tetapi dia juga Allah yang peduli dan yang mau dekat, yang mengasihi dan yang merengkuh kerapuhan umatnya yang berdosa. Kalau kita mengerti ini maka hidup kita akan berubah, cara pandang kita akan berubah dan cara kita menyanyikan lagu pujian akan berubah karena Allah yang besar itu tidak jauh tetapi mendekati kita dan tinggal dalam kita.
Kalau kita merasa tidak mampu dan sedang mengalami pergumulan maka di situ justru Tuhan sedang bekerja di balik layar. Kalau kita sedang mengalami insecurity maka justru disitu Tuhan ingin berproses dan membawa kita ke dalam perjalanan untuk kita belajar mendapatkan keamanan bukan pada kekuatan, kekayaan, kemampuanmu dan kapandaian kita tetapi hanya kepada Kristus saja.
Pernyataan kita, seperti halnya Maria, berakar pada keyakinan bahwa kasih setia Tuhan tidak akan tergoyahkan.
Kepercayaan akan kesetiaan Tuhan memperkuat tekad kita untuk memuliakan-Nya—terutama di tengah ketidakpastian.
TUHAN bagi kita adalah Allah yang peduli dengan kesengsaraan kita. Suatu saat nanti kita akan diangkat dan ditinggikan sama seperti Maria dan Hana. Karena itu sebagai orang-orang percaya kita tidak perlu takut dan kuatir dalam hidup ini.
Jadi, luangkan waktu sejenak hari ini untuk mengingat “hal-hal besar” yang telah dilakukan Yang Maha Kuasa bagi setiap kita. Saat kita melakukannya, berdoalah agar hati kita tergerak untuk memuji nama-Nya yang kudus, mengingat bahwa Dia telah melakukan hal-hal besar bukan hanya untuk orang lain tetapi juga untuk kita.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang Mahakuasa namun juga dekat dengan kami. Engkau kudus, Engkau berkuasa, namun Engkau juga penuh kasih dan peduli pada setiap pergumulan kami. Ajarlah kami untuk tetap memuji nama-Mu yang kudus, bahkan di saat kami tidak mengerti jalan-Mu, bahkan ketika hati kami penuh ketakutan dan beban. Kami percaya bahwa di balik semua kesulitan, Engkau sedang bekerja dan merancangkan yang terbaik bagi kami. Penuhi kami dengan iman seperti Maria, yang memilih memuliakan-Mu meskipun ia menghadapi ketidakpastian. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Hikmat Hari Ini
Ketika hati kita goyah oleh pergumulan, tetaplah berkata: “Kuduslah nama-Nya.” Sebab Allah yang kudus tidak hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih dan peduli pada setiap kelemahan kita.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – DOT
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan