Renungan Harian, Rabu 17 Desember 2025
Ayat Pokok : Matius 18:1-5
Syalom… Selamat Pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam TUHAN Yesus Kristus. Di lingkungan kita kerap kali seseorang memberikan sebutan atau istilah bagi orang-orang tertentu. Misalnya; orang yang memiliki kedudukan dan status sosial yang tinggi seperti pejabat negara kita menyebutnya sebagai orang besar, sedangkan orang dengan status sosial yang sederhana dan tidak memiliki kedudukan atau jabatan kita menyebutnya sebagai orang kecil [kawulo alit dalam bahasa jawa]. Dan dalam konteks masyarakat pada umumnya kedudukan atau posisi seseorang menjadi sebuah pencapaian yang diinginkan oleh banyak orang. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan sebab Alkitab sendiri memberikan contoh bahkan dikalangan murid-murid Yesus pun mereka menginginkan kedudukan atau posisi yang baik sebagai yang terbesar.
Teks Pokok kita menunjukkan peristiwa tersebut, dimana murid-murid datang kepada Yesus dan bertanya kepada-NYA ; “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga??” Maksud dari pertanyaan ini jelas bahwa yang mereka maksudkan bukanlah “siapa” menurut tabiat namun “siapa” yang mereka maksud adalah nama-nama orangnya. Yang murid-murid harapkan adalah Yesus memberikan urutan nama dari yang terbesar sampai yang terkecil menurut posisi mereka dalam kerajaan-NYA. Pertanyaan ini dipicu dari pemahaman mereka tentang konsep kerajaan yang mereka tahu tidak menurut konsep kerajaan yang Tuhan Yesus maksud. Mereka [murid-murid] selalu mengimpi-impikan sebuah
kerajaan duniawi yang tampak besar dan megah – dan memang kerajaan sorga lebih besar dan megah dari kerajaan duniawi –. Banyak orang suka mendengar dan berbicara mengenai hak-hak istimewa dan kemuliaan Kerajaan Sorga, tetapi tidak bersedia untuk berusaha dan berkorban. Mereka menginginkan mahkota kerajaan, tetapi lupa akan kuk dan beban salib yang harus dipikul. Inilah yang ditunjukkan oleh murid-murid Yesus ketika mereka bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”
Yang menarik adalah jawaban Yesus kepada mereka, alih-alih mendapatkan jawaban yang mereka harapkan, murid-murid mendapatkan pelajaran penting yang harus mereka perhatikan. Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya ditengah mereka. DIA mengajari mereka untuk bersikap rendah hati. Ajaran mengenai kerendahan hati sangat sulit untuk dicerna sehingga diperlukan berbagai macam cara dan sarana untuk dipelajari. Oleh karena itu, Yesus menempatkan anak kecil di tengah-tengah mereka, bukan agar mereka dapat bermain-main dengan anak kecil tersebut, namun agar mereka dapat memetik pelajaran darinya. Yesus berkata; “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga [Ayat 3].
Apa yang Yesus ajarkan disini adalah teguran keras bagi murid-murid yang sudah memiliki keinginan untuk meninggikan diri dan bertolak belakang dengan apa yang Yesus telah kerjakan. Oleh sebab itu Yesus menegor mereka agar mereka bertobat. Bertobat adalah harus berubah dalam akal budi, dalam perilaku dan tabiat. Pemikiran yang dibaharui baik tentang mengenai diri sendiri maupun mengenai Kerajaan Sorga, jika ingin mendapat tempat di dalamnya. Sifat angkuh, pengejaran akan keinginan yang berlebihan, dan haus akan kehormatan dan kekuasaan yang ada dalam diri harus dipertobatkan, dimatikan, dan diubahkan sepenuhnya. Kemudian ditindaklanjuti dengan menjalani kehidupan yang tulus dan mengejar kemurnian hidup, mengejar apa yang benar yang harus dilakukan dan gaya hidup mengampuni. Dan semua ini adalah buah dari karakter kerendahan hati.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih. Hal mengenai kerendahan hati sebenarnya adalah pesan dan pengajaran yang Yesus selalu dengungkan. Matius 11:29 (TB) “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Dan sekali lagi Yesus tidak kompromi dengan sedikit saja benih tinggi hati atau kesombongan. Oleh sebab itu pesan yang sama bagi kita adalah jangan sampai ada benih tinggi hati atau kesombongan dalam diri kita. Oleh sebab itu J.L Parkir berkata ; “Perjuangan melawan kesombongan dalam hati adalah perjuangan seumur hidup, jadi kerendahan hati harus menjadi sikap hidup yang semakin tertanam”. Marilah kita belajar kepada pribadi Yesus. DIA yang adalah Allah, rela turun ke dunia, menjadi manusia. Bukan hanya menjadi manusia, namun dalam rupa-NYA sebagai manusia telah melayani dan merendahkan diri memberikan nyawa-NYA, mati bagi manusia. Bahkan rela mati diatas kayu salib menjadi tebusan bagi dosa manusia.
Menjelang Natal ini, marilah kita introspeksi diri kita, apakah kita sudah benar-benar rendah hati??? Hanya kita dan TIHAN yang tahu. Namun kerendahan hati adalah karakter yang melekat pada diri dan bertumbuh melalui proses hidup yang kita jalani tiap hari. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menjadi seperti yang TUHAN Yesus inginkan ; “Sebab AKU ini Rendah Hati.”
“Jika engkau bertanya padaku apa saja jalan Tuhan, aku akan menjawab kepadamu bahwa yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati. Bukan berarti tidak ada ketetapan lain yang bisa diberikan, tetapi jika kerendahan hati tidak mendahului semua yang kita lakukan, usaha kita tidak membuahkan hasil.” ~Agustinus, Bapa Gereja (354-430)
Hari ini kita merenungkan bersama bahwa Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ukuran terbesar dalam Kerajaan Sorga tidak ditentukan oleh jabatan, status, atau kedudukan, melainkan oleh kerendahan hati yang tulus seperti seorang anak kecil. Murid-murid ingin tahu siapa yang paling besar, tetapi Yesus justru menunjukkan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah pun, seseorang harus lebih dahulu memiliki hati yang sederhana, murni, dan berserah seperti anak kecil. Inilah panggilan bagi kita semua — untuk bertobat dari kesombongan, meninggalkan ambisi pribadi, dan belajar meneladani Kristus yang adalah teladan kerendahan hati sejati. Di mata dunia, kerendahan hati mungkin tampak lemah, tetapi di mata Tuhan, itulah kekuatan terbesar yang mengangkat kita menuju kemuliaan-Nya.
Hikmat Hari Ini
“Kerendahan hati bukan berarti kita berpikir lebih rendah tentang diri sendiri, tetapi berpikir lebih sedikit tentang diri sendiri dan lebih banyak tentang Kristus.”
Amin.
Tuhan Memberkati.
DS
Judul:
Menemukan Jawaban: Siapakah yang Terbesar? — Belajar Kerendahan Hati dari Yesus
Focus Keyphrase:
Kerendahan hati dalam Kerajaan Sorga, renungan Matius 18:1-5, belajar rendah hati seperti anak kecil, siapa yang terbesar menurut Yesus
Meta Description (untuk Yoast SEO):
Renungan “Menemukan Jawaban: Siapakah yang Terbesar?” dari Matius 18:1-5 mengajarkan bahwa kebesaran sejati di mata Tuhan bukan diukur dari jabatan atau status, melainkan dari hati yang rendah dan tulus seperti anak kecil. Pelajari bagaimana Yesus menegur murid-murid dan memanggil kita untuk hidup dalam kerendahan hati sejati.