Elohim Ministry youth MENCINTAI DIDIKAN

MENCINTAI DIDIKAN



Renungan Harian Youth, Rabu 30 Agustus 2023

Amsal 12:1, Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.

Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan mementingkan dan membenarkan diri sendiri atau menganggap diri paling benar sehingga kita sulit sekali menjadi pendengar yang baik bagi orang lain.  Mendengarkan orang lain berarti punya rasa penghargaan terhadap orang lain dan tanda bahwa kita mampu memahami mereka;  mau mendengarkan orang lain berarti pula rela menerima teguran, masukan, kritik, saran ataupun nasihat dari orang lain.  Hal-hal seperti ini bisa menjadi suatu pembelajaran bagi kita dalam menanggapi kehidupan yang penuh dinamika.

Kekuatan kita muncul melalui respon yang benar tentang suatu didikan.

Rekan-rekan youth, Raja Salomo dalam Amsal pasal 12, menjelaskan tentang manusia yang berhikmat dan yang tidak berhikmat. Marilah kita memegang hikmat Allah dan meraih kebijaksanaan dalam firmanNya, untuk keselamatan kita.

Salah satu syarat bagi mereka yang mau belajar adalah siap untuk menerima koreksi. Kata “didikan” ( Amsal 12:1) sebenarnya berbicara tentang disiplin.  Dalam pendidikan karakter dan kepribadian, kita membutuhkan disiplin yang ketat agar kita menjadi orang yang berhikmat dan bijaksana. Selain itu, kata “dungu” dalam ayat ini tidak mengandung arti hinaan, tetapi lebih sebagai istilah yang menunjuk pada sikap dan perilaku seseorang.

Secara keseluruhan Amsal 12:1-3,5-10,12-23,26 menjelaskan bahwa Allah berkenan kepada orang yang berakal budi. Orang bijak menyimpan banyak pengetahuan. Setiap orang yang melakukan kebaikan akan kenyang oleh buah berbuatanya. Rumahnya berdiri tetap karena rancangannya benar. Ia memelihara hewan-hewannya dengan baik. Lidah orang benar mendatangkan kesembuhan kepada orang yang patah hati. Mulutnya mengucapkan kejujuran dan menyelamatkan orang lain. Bibirnya tetap mengatakan kebenaran untuk selama-lamanya. Maka dari sini kita bisa pahami sebenarnya bahwa kitab Amsal ditulis untuk seseorang menenmukan kebijaksanaan dalam kehidupan yang ia jalani.

Didikan itu kadang memang ada yang tidak mengenakkan, karena ada didikan yang keras, ada didikan yang lembut.

Ketika ada didikan yang ‘keras’ kadang kita masih suka menolak atau tidak menerimanya, padahal menurut kitab Amsal, di balik didikan itu ada pengetahuan. Sedangkan menurut kitab Ibrani pasal 5, makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa yang mempunyai panca indera yang terlatih. Jadi pertanyaannya sudahkah kita dewasa? Sudahkah kita siap memakan makanan yang keras? Sudahkah kita mencintai didikan? Kita sebagai anak-anak Allah harus mulai untuk terus mencintai didikan, karena ketika kita mencintai didikan kita akan mencintai pengetahuan.

Alhasil ketika kita suka sekali dengan didikan kita akan terus dan terus mencari ‘pengetahuan’ itu.

Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu. Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Allah. Orang fasik memperdaya bagaikan jala, untuk menangkap banyak orang menuju binasa. Perkataan orang fasik menghadang darah, bibir mereka sangat berbisa bagaikan bisa ular, dan mulutnya lancang seperti tikaman pedang. Hatinya serong, tidak berbelas kasihan, dan tidak memperhatikan hidup hewannya. Kehidupan orang fasik tidak akan kekal, mereka akan dihukum oleh Allah. Mazmur 1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

BELAJAR DARI MUSA YANG MAU MENDENGARKAN NASIHAT ORANG LAIN

Sebagai pemimpin bangsa Israel Musa memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, jauh melebihi kemampuannya.  “Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah.”  (Keluaran 18:15-16).  Musa memikul tugas berkenaan dengan wewenang membuat undang-undang serta mengadili perkara yang terjadi di antara orang Israel.  Mustahil bagi Musa untuk mengerjakan tugas itu seorang diri, karena itu dia sangat membutuh rekan kerja untuk membantunya.

Yitro, sang mertua, yang juga adalah seorang imam dari Midian, selalu memperhatikan dan mengamati kesibukan Musa sehari-hari dalam  “…mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang.”  (Keluaran 18:13).  Mulai dari pagi sampai petang Musa harus menjalankan tugasnya dan itu sangat menguras energi dan membuat stress.  Karena itu ia menasihati Musa,  “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.”  (Keluaran 18:17-18).  Yitro pun mengajukan usul kepada Musa untuk melakukan pendelegasian tugas kepada orang-orang yang dinilainya tepat dan qualified sehingga Musa tidak harus ‘turun gunung’ langsung. 

Rekan-rekan youth, Mendengarkan orang lain berarti punya rasa penghargaan terhadap orang lain dan tanda bahwa kita mampu memahami mereka;  mau mendengarkan orang lain berarti pula rela menerima teguran, masukan, kritik, saran ataupun nasihat dari orang lain.

Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima nasihat dan saran dari orang lain!

Jangan sampai kita membenci didikan atau teguran karena akan membuat kita menjadi dungu. Biarlah didikan Allah (Firman Tuhan) yang terus membuat kita semakin mengerti apa yang Tuhan mau, dan didikan itu yang akan terus membawa kita semakin terbang tinggi bersama Dia.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

RM – NDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *