Renungan Harian, Selasa 26 November 2024
Bacaan : Lukas 19:1-10
Nats : Lukas 19:10, Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang
Syalom bapak ibu saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . .
Membenci Zakheus sangatlah mudah. Sebagai seorang pemungut cukai pemerintah penjajah yang menekan, ia membuat dirinya sendiri kaya dengan memungut pajak yang lebih tinggi dari orang sebangsanya. Namun, yang menggemparkan orang banyak, Yesus justru menghormatinya dengan berkunjung ke rumah Zakheus dan makan bersamanya.
Seorang hakim yang terkenal tegas menceritakan bagaimana ia belajar untuk berhubungan baik dengan orang-orang yang sulit untuk dikasihi. Pada sebuah khotbah di kebaktian Minggu pagi, pendetanya mendorong jemaat untuk berusaha memandang orang lain seperti cara Tuhan Yesus memandang. Beberapa hari kemudian sang hakim sudah akan memberikan hukuman keras kepada seorang pemuda angkuh yang terus-menerus terlibat masalah. Namun, ia teringat akan apa yang telah disarankan pendetanya. Sang hakim berkata, “Saya memandang mata pemuda ini dan berkata kepadanya bahwa saya pikir ia adalah manusia yang juga dikasihi Allah. Lalu saya berkata kepadanya, ‘Mari bicara tentang bagaimana kita dapat membuat hidup anda berubah lebih baik.’ Dan percakapan itu pun berlangsung dengan sangat baik.”
Yesus memandang Zakheus sebagai orang berdosa yang memiliki sebuah lubang kosong yang hanya dapat diisi oleh-Nya, dan lewat kebaikan hati-Nya Zakheus diubah. Sang hakim tidak dapat melaporkan perubahan yang sama, namun siapakah yang mengetahui hasilnya, Membangun untuk jangka panjang? Ia memberikan teladan yang baik bagi kita semua, karena ia melihat pria itu melihat seperti cara Yesus memandang Zakheus.
Dibagian lain dalam Matius 5:45, Yesus menggunakan teladan Bapa-Nya di surga untuk mengilustrasikan bagaimana kita harus memperlakukan mereka yang menyakiti kita, yang mungkin menempatkan kita di tempat yang paling buruk. Yesus berkata bahwa Bapa-Nya mengirimkan berkat hujan baik kepada orang yang benar maupun yang tidak benar; jika Allah bahkan memberikan hujan kepada orang yang tidak benar, lalu bagaimana kita harus memperlakukan mereka juga?
Yesus mengakhiri perikop ini dengan sebuah ayat yang sering menimbulkan banyak perdebatan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5: 48). Tetapi maknanya sangat jelas dalam konteksnya: Orang-orang yang ingin menjadi sempurna sama seperti Allah itu sempurna harus menunjukkan kasih kepada musuh-musuh mereka sebagaimana Allah menunjukkan kasih kepada musuh-musuh-Nya. Menjadi sempurna di mata Allah berarti mengasihi musuh; dan untuk melakukan hal ini dibutuhkan kelemahlembutan hati yang hanya bisa diberikan oleh Allah.
BELAS KASIHAN YANG SEJATI AKAN MENERAPKAN KASIH DALAM PERBUATAN
Tuhan Memberkati
TC