“Jangan Bersungut-sungut”

“Jangan Bersungut-sungut”

Renungan harian anak, Rabu 05 Mei 2021

Shallom,…selamat pagi  adik-adik. Bagaimana kabar adik-adik hari ini? Semoga adik-adik tetap semangat, sehat selalu dan tetap bersukacita

Mari kita siapkan hati dan pikiran kita untuk mendengar dan merenumgkan Firman Tuhan….

Adik-adik mari kita Kembali mengingat kisah tentang Yosua dan Tembok Yerikho . Tuhan sudah mengatakan kepada Yosua dan bangsa Israel bahwa kota Yerikho memiliki pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa (Yosua 6:2). Tetapi Tuhan juga berfirman bahwa kota itu sudah diserahkan kepada Bangsa Israel, tetapi mereka perlu melakukan apa yang Tuhan sudah perintahkan yaitu berbaris dan mengelilingi tembok itu.

Namun ada yang menarik selama berkeliling, yaitu mereka tidak boleh berbicara. Kira-kira mengapa ya mereka tidak boleh berbicara?

Kalau adik-adik masih ingat kebiasaan bangsa Israel kalau mengalami kesulitan dan masalah, yaitu bersungut-sungut. Tahukah adik-adik, bahwa bersungut-sungut adalah sebuah sikap yang artinya sama dengan tidak percaya dan tidak beryukur kepada Tuhan. Karena kalau mereka percaya, tidak mungkin mereka bersungut-sungut . Tetapi karena mereka  tidak percaya kepada Tuhan, maka mereka mengomel,mengeluh dan bersungut-sungut dan tidak bisa bersyukur.

Nah keluhan satu orang ternyata bisa menular kepada orang lain, dan akan menyebabkan seluruh bangsa Israel ikut mengeluh. Mengelilingi tembok Yerikho sebenarnya bukan pekerjaan yang sangat sulit. Tetapi malah aneh, karena tidak pernah dilakukan oleh pasukan perang manapun strategi perang ini.

Namun disisi yang lain yang Tuhan minta adalah PERCAYA kepada JANJI dan PERTOLONGAN TUHAN.

Adik-adik saat itu Yosua dan bangsa Israel taat kepada perintah Tuhan. Tidak ada seorangpun yang bicara selama mereka berkeliling 7 hari. Tahukah adik-adik pada hari ke tujuh Tuhan memerintahkan mereka untuk bersorak-sorai, memuji Tuhan dan memuliakan Tuhan dan tiba-tiba tembok itu runtuh tanpa menggunakan bom atau alat canggih apapun melainkan karena mujizat dan kuasa Tuhan. Luar biasa ya Tuhan kita.

Dalam peristiwa ini Tuhan juga ingin mengajarkan kita bahwa iman kita didalam Tuhan dapat mengalahkan segala benteng masalah.

Ayo kita semua belajar untuk memiliki hati yang percaya kepada Tuhan dan juga tidak bersungut-sungut tetapi sebaliknya mau untuk selalu berlajar bersyukur kepada Tuhan. Siapa adik-adik yang masih suka bersungut-sungut? Kalau disuruh makan, disuruh belajar atau membantu orang tua ayo kerjakan dengan sukacita dan ucapan syukur.

Ayat Hafalan:

1 Yohanes 5:4, Sebab semua yang lahir dari Allah ,mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia : iman kita.

Komitmenku hari ini:

Saya mau belajar untuk taat dan percaya kepada Firman Tuhan. Serta melakukan semuanya dengan ucapan syukur dan tidak bersungut-sungut

Yu – GCT

Garis Akhir adalah Koentji (Part 2)

Garis Akhir adalah Koentji (Part 2)

Renungan Harian Youth, Rabu 05 Mei 2021

MANFAAT MENGETAHUI AKHIR LEBIH BAIK DARI AWAL

2 Timotius 4:7  Saya sudah mencapai garis terakhir dalam perlombaan rohani ini. Saya sudah menjadi pemenang dalam perjuangan ini! Saya sudah berdiri kuat dalam apa yang saya percayai sampai hari terakhir. (Terjemahan Sederhana Indonesia)

Rekan-rekan youth, Sebagai peserta dari perlombaan kehidupan, masing-masing kita telah diberikan tanggung jawab utama, yaitu mengakhiri dengan baik. Menyelesaikan pertandingan bukanlah sebuah hal yang menguntungkan dari “Penyelenggara Perlombaan,” namun ketahanan dari setiap kitalah yang menjadi nilai yang akan menentukan apakah kita menyelesaikan perlombaan dengan baik.

Rasul Paulus merefleksikan kehidupannya dengan sebuah perlombaan.  Ia mungkin memulai karir keyahudiannya dengan brilian dan berpotensi tinggi menjadi orang terpandang di kalangan Yahudi, ia bahkan dengan berani menganiaya pengikut Kristus agar dipandang sebagai orang Yahudi sejati.  Namun, perjumpaan dengan Yesus Kristus merubah jalur prestasi yang dimulai sebagai orang Yahudi berprestasi, beralih menjadi pengikut Kristus yang militan.  Dan hasilnya adalah, Paulus menjadi seorang Rasul yang dipakai Tuhan dan mempersembahkan diriNya menjadi pelayan Injil dalam segala keadaan. Sehingga dengan penuh keyakinan, Paulus berkata bahwa “aku telah memelihara iman.”

Perjumpaan dengan Kristus membuat Paulus dengan yakin memandang garis akhir kehidupan bersama-sama dengan Tuhan.  Dan bagi kita anak-anak muda, penting bagi kita untuk tetap berdiri kuat dalam apa yang kita yakini sampai garis akhir kehidupan.

Dan tentunya, ada manfaat atau keuntungan yang akan kita rasakan, ketika mengetahui pentingnya mencapai garis akhir dalam hidup ini.

1. Menolong kita keluar dari perasaan menyesal

Penyesalan adalah ibarat sengat yang menyakitkan. Orang sering dihantui akan kegagalan atau keburukan di masa lalu, sehingga tidak bisa maju dan tenggelam dalam penyesalan.

Banyak orang di akhir ajal nya atau saat ditimpa penyakit yang parah, menyesal: tidak menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya, atau tidak melayani Tuhan saat bisa.

Menyesal karena masa lalu baik kalau kita mau berubah dan bertobat.

1 Yohanes 1:9 – Allah setia dan adil, mengampuni dosa kita saat kita sungguh-sungguh mau berubah.

2. Dapat menenangkan kita dari rasa kuatir akan masa depan

Kalau kita tahu ada yang lebih baik di akhir, kita akan tenang dan tidak merasa kuatir akan masa depan. Kekuatiran adalah sesuatu yang menghambat sebuah kemajuan. Bahkan di tengah penganiayaan/hinaan yang kita terima, kita bisa melihat bahwa pada akhir nya, kita akan bisa bertemu dengan Tuhan dalam kemuliaan di akhir hidup kita. Tuhan selalu menjanjikan pengharapan di tengah penderitaan kita (Yeremia 29:11).

3. Memberi dorongan bagi iman kita

Iman kita akan memberikan kekuatan bagi kita untuk menyelesaikan proses yang kita sedang alami. Alkitab selalu mengajak kita untuk memandang masa depan – contoh: Abraham [berjalan terus biarpun dia meninggalkan tanah asalnya, tidak pernah mengeluh ingin kembali], Paulus dalam 2 Timotius 4:6-7 [ia melihat akhir hidupnya adalah sesuatu yang mulia, bersama dengan Tuhan].

Juga Wahyu menceritakan masa depan yang mulia dan selamanya – tidak ada lagi penderitaan, kesusahan, ada langit dan bumi yang baru, dan hidup bersama-sama dengan Tuhan!

4. Kita bisa belajar dari ciptaan Tuhan

Contoh: kupu-kupu yang keluar dari kepompong – sangat indah)

Yakobus mengingatkan kita untuk berbahagia saat kita dicobai; Paulus menasihatkan kita untuk melupakan yang di belakang dan mengarahkan pandangan kita ke depan (Filipi 3:13).

Jaman ini kita mau apa pun serba instan, mau nya “quick fix”! Menyedihkan kalau sebagai anak Tuhan kita mau apa pun dibereskan sekarang juga, kita seperti anak anak yang mau dipenuhi apa pun yang dia maui.  Jangan sampai kita kehilangan proses kehidupan yang membuat kita tahu bagaimana Tuhan bekerja di dalam kita

Pandang akhir, bukan pada saat kita di proses.

Kalau kita sedang dalam sebuah pergumulan yang berat, bertahanlah! Paulus melihat kemuliaan yang jauh lebih besar di akhir hidup kita, bahwa kita akan hidup bersama dengan Kristus.

Matius 24:13 (FAYH)  Tetapi mereka yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan.

Komitmen Kita:

Aku mau mencapai garis akhir kehidupan dengan berproses bersama dengan Tuhan dan teguh dalam keyakinan bahwa Tuhan bekerja sempurna di dalam hidupku.

RM – YDK

El Rei hadir di Spotify

“Tenggelam dalam Kenyamanan”

“Tenggelam dalam Kenyamanan”

Renungan harian Rabu, 05 Mei 2021

Syalom Selamat Pagi Bapak Ibu Saudara sekalian yang dikasihi Tuhan …

Sebuah kisah ilustrasi tentang seekor monyet yang sedang memanjat pohon kelapa, setelah cukup lama di pohon itu. Datanglah angin topan, tornado, dan bahorok. Angin topan bertiup sekencang-kencangnya WUUUUSSS…. Tapi Si Monyet berpegangan erat dan tidak jatuh. Lalu angin tornado, bertiup berputar-putar SWIIIINGGG…., tapi tetap saja si monyet tidak jatuh. Angin bahorok mengeluarkan semua kekuatannya tapi Si Monyet semakin erat bertahan. Datanglah angin sepoi-sepoi menyapa ketiga angin dan berkatalah si angin sepoi-sepoi bahwa dia bisa menjatuhkan monyet di pohon kelapa itu. Ketiga Angin tertawa, “Mana mungkin”. Pikir mereka, mereka yang sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya saja tidak mampu menjatuhkan Si Monyet, apalagi angin sepoi-sepoi yang lemah lembut. Angin sepoi-sepoi menghampiri Si Monyet dan meniup pelan ubun-ubunnya. “Hmmm enak, adem, nyaman” pikir si monyet. Karena keenakan Si Monyet jadi ngantuk dan melepaskan pegangannya lalu terjatuhlah Si Monyet dari atas pohon kelapa.

Musuh dari kemajuan adalah kenyamanan. Sebagian orang mungkin akan berkata, bukankah kita perlu merasakan nyaman di dalam hidup ini? Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, namun jika kita hanya semata-mata mengejar kenyamanan, maka kita dapat terjebak di dalam zona nyaman yang kita ciptakan sendiri. Zona nyaman akan membuat seseorang tidak lagi produktif dan responsif terhadap perubahan. Jika seseorang telah terjebak di dalam zona nyaman, maka cepat atau lambat kehidupannya akan mengalami kemunduran dengan sendirinya.

Tapi kenyamanan itu akan membunuh secara perlahan manusia-manusia yang terlarut di dalamnya. Kenyamanan hidup juga bisa membuat seseorang tidak memerlukan siapa-siapa, bahkan Allah sekalipun. Kenyamanan hidup yang menciptakan suasana jiwa dimana seseorang tidak merasa membutuhkan Allah adalah keadaan gawat yang harus dengan cepat segera disadari.

Lukas 21:34-36, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Allah memanggil Abraham keluar dari negeri Ur-Kasdim. Perlu diketahui bahwa Abraham adalah seorang yang kaya raya. Keluarganya adalah orang yang paling berkuasa di negeri tersebut. Namun, justru Allah memanggilnya untuk keluar dari “zona nyaman”-nya menuju ke tempat yang sama sekali baru dan tidak dikenalnya. Bagi Abraham, untuk pindah ke suatu tempat yang baru artinya dia harus melakukan pekerjaan baru, beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan masih banyak hal-hal baru lainnya. Abraham harus memutuskan sebuah langkah iman untuk keluar dari zona nyamannya. Meskipun ada banyak hal yang masih belum diketahui Abraham, namun Allah memiliki rencana yang lebih besar dari segala ketakutan dan kekhawatirannya. Allah ingin Abraham bukan hanya dikenal sebagai orang kaya di tempat asalnya, namun Allah ingin Abraham mengalami kemajuan iman agar hidupnya dapat menjadi berkat bagi banyak bangsa dan Abraham dapat disebut sebagai “bapa semua orang percaya”.

Alexander Solzhenitsyn, seorang kristiani Rusia, pernah dibuang ke kamp pekerja Soviet. Di situ ia disiksa. Disuruh bekerja bagai kuda. Anehnya, setelah keluar ia malah mensyukuri masa-masa itu. “Di situ saya mendapat pengalaman berharga,”

“Sebelum menghadapi bahaya dan kesusahan, jebakan kenyamanan membuat saya malas bertumbuh. Di kamp itu, baru saya sadari, betapa pentingnya mengandalkan Tuhan. Hidup yang keras dan sulit justru membuat iman saya bertumbuh.

Alexander Solzhenitsyn, seorang kristiani Rusia

Hari ini Tuhan pun memanggil Anda untuk keluar dari zona nyaman Anda. Bila Anda sedang menghadapi tantangan yang baru dalam pelayanan, usaha atau pekerjaan sedang mengalami pergolakan, bahkan bila mungkin ada anggota keluarga Anda yang tiba-tiba jatuh sakit, ketahuilah bahwa Allah dapat menggunakan semua hal itu untuk memperbesar kapasitas iman Anda kepada-Nya. Tetapi anugerah Tuhan pasti akan memampukan Anda untuk terus keluar dari zona nyaman Anda, meresponi perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam hidup Anda sehingga kerohanian Anda mengalami pertumbuhan semakin hari semakin serupa dengan-Nya.

Jika saat ini anda tengah diingatkan untuk keluar dari zona nyaman oleh Tuhan, segera lakukan! Tuhan pasti memiliki tujuan bagi anda. Keluarlah dari zona nyaman Anda, sambutlah perubahan yang terjadi secara positif dan alamilah pertumbuhan di dalam iman Anda.

Tidak ada pertumbuhan di zona nyaman, tidak ada kenyamanan jika Anda ingin mengalami pertumbuhan.

Tuhan Memberkati ….

(TC)