“MADU YANG MURNI”

“MADU YANG MURNI”

Renungan Harian Anak, Jumat 14 Mei 2021

Mazmur 119:103, Betapa manisnya janji-Mu Itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu Bagi mulutku.

Tahukah adik-adik, ada makanan yang tidak ada masa kadaluarsanya alias tidak dapat basi? Salah satunya adalah madu murni. Siapa yang suka makan madu? Madu rasanya manis dan baik untuk kesehatan. Madu memiliki tingkat keasaman tertentu yang menyebabkan bakteri sulit tumbuh dan berkembang di dalamnya, sehingga madu tidak bisa basi. Konon, Para ahli purbakala menemukan botol-botol madu yang di temukan di Mesir yang sudah berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun. Tapi setelah di cicipi, madu itu rasanya masih tetap enak. Hebat ya adik-adik?

Di dunia ini juga ada hal lain yang begitu manis dan tidak dapat basi. Alkitab mengatakan bahwa janji Tuhan sangat manis dan tetap untuk selamanya. Tuhan itu begitu baik. Dia memberikan janji yang sangat indah, dan menggenapinya juga bagi setiap kita anak-anakNya

Manusia juga suka berjanji, tetapi manusia seringkali mengingkarinya. Tetapi, Tuhan janji-Nya manis dan selalu di tepati-Nya. Sejak manusia jatuh dalam dosa, Tuhan berjanji akan memberikan Juruselamat yang akan menghapuskan dosa-dosa manusia sehingga manusia dapat memiliki kehidupan kekal di sorga. Tuhan berjanji tidak akan mengingat dosa-dosa Manusia lagi dan akan menebus umat manusia. Tuhan berjanji akan memikul segala penyakit dan segala penderitaan kita. Tuhan juga berjanji akan selalu menyertai kita untuk selama-lamanya.

Janji Tuhan itu digenapi/ditepati oleh Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada satu janjipun yang tidak di tepati-Nya. Janji Tuhan tidak hanya berlaku Untuk orang-orang yang hidup pada zaman Tuhan Yesus, tetapi juga berlaku bagi kita yang hidup di zaman ini. Tuhan Yesus begitu mengasihi kita adik-adik dan ingin supaya kita  Mengenal Dia dan janji-janji-Nya, sehingga kita dapat memiliki pengharapan yang besar kepada Tuhan Yesus.

Orang yang selalu lupa terhadap janji-janji Tuhan akan menjadi orang yang mudah putus asa dan mudah jatuh dalam dosa.

Contohnya seperti Murid-murid Tuhan Yesus Ketika mereka lupa Akan perkataan Tuhan Yesus yang mengatakan Ia akan bangkit pada hari yang ke tiga. Saat itu dalam hati mereka timbul kesedihan, kekecewaan dan ketakutan. Mereka tidak percaya namun Tuhan mengasihi mereka, Tuhan menampakkan diri kemudian menegor dan mengajar Kembali tentang Firman Tuhan. Dan tidak hanya itu Tuhan memberikan banyak janji yang luar biasa.

Orang yang selalu mengingat janji-janji Tuhan Itu seperti orang yang suka makan madu yang menyehatkan tubuh. Dia akan menjadi seorang yang bergembira dan selalu sehat. Orang yang memegang janji-janji Tuhan Akan tetap kuat dan dapat melawan Tipu muslihat iblis. Ingatlah selalu janji Tuhan, Dan bersyukurlah senantiasa. Adik-adik semoga masih ingat renungan kemarin Ketika kita memperingati hari kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, Tuhan memberikan begitu banyak janji yang sungguh luar biasa. Bagian kita adalah percaya dan melakukan bagian kita untuk tetap setia kepada Tuhan, percayalah Tuhan pasti akan menggenapi janjiNya

Ayat Hafalan

Mazmur 18:31 Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

Komitmenku hari ini

Aku mau selalu percaya akan janji Tuhan bagi hidupku, menyimpannya dalam hatiku karena janji Tuhan seperti Madu yang murni yang menyegarkan aku.

Tuhan Yesus Memberkati

TW – YC

“Tempat Bersandar yang Tepat”

“Tempat Bersandar yang Tepat”

Renungan Harian Youth, Jumat 14 Mei 2021

Rekan-rekan youth, kalo ngomongin tentang tempat bersandar, semua pasti pikirannya bercabang kemana-mana. Pasti ada yang senyum-senyum, stay cool, dan bisa jadi ada yang baper.  Tapi tenang dulu bro, sis semuanya, tempat bersandar yang paling nyaman di dalam hidup ini ya hanya Tuhan Yesus saja.

Dalam bacaan kita pagi ini, kita belajar dari pengalaman Daud sebelum dia berkuasa sebagai raja di Israel.  Pernah gak teman-teman mengalami begitu banyak masalah yang datang bertubi-tubi dalam jarak waktu yang singkat? Belum satu beres sudah datang dua lagi sampai anda tertimbun di dalam tumpukan masalah dan merasa tidak lagi mampu keluar dari timbunan itu? Saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya, tidak terkecuali saya sendiri. Tugas kuliah yang satu belum beres, eh ketambahan 7 tugas lain yang lebih berat.  Atau mungkin bagi rekan-rekan pekerja, perusahaan kalian memberi target-target yang mustahil tercapai dan ancamannya adalah PHK jika target tersebut tidak tercapai. Bagi yang pernah mengalami hal seperti ini tentu tahu bagaimana berat rasanya. Tidak jarang orang lalu menyerah, putus asa dan memilih melakukan hal-hal yang bodoh akibat tidak tahan menderita lebih lama lagi.

Ada yang kemudian menjadi ragu akan kebaikan Tuhan dan terjebak untuk mengambil jalan-jalan pintas yang menyesatkan. Apa yang seharusnya kita lakukan pada saat berada dalam situasi serba sukar seperti itu? Kita bisa belajar dari Daud akan hal ini.

Semua terlihat mengerikan pada suatu kali saat Daud dan tentaranya tiba di Ziklag. Pada saat itu orang-orang Amalek telah menyerbu dan membakar habis kota itu. Meski tidak ada yang dibunuh, tetapi para wanita dan anak-anak mereka tawan semuanya dan mereka bawa pergi bersama mereka, termasuk di dalamnya dua istri Daud. Semua itu bisa kita baca dalam 1 Samuel 30:1-25. Sampai disitu saja situasi sudah sangat pelik. Tetapi masalah tidak berhenti sampai disitu, karena kemudian dikatakan:

 “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan.” (ay 6a-b).

Tidak hanya sedih melihat seisi kota dibakar habis, tidak hanya sedih melihat wanita dan anak-anak ditawan, tidak hanya sedih mengetahui bahwa istrinya sendiri pun turut diangkut oleh orang Amalek, tetapi ia juga harus menghadapi rakyat yang siap membunuhnya dengan lemparan batu karena marah anak dan istri mereka lenyap dirampas musuh. Daud harus menghadapi ini semua, dan situasinya benar-benar mengerikan. Kita mungkin akan segera putus asa jika berhadapan dengan kondisi seperti itu. Tetapi lihatlah apa yang dilakukan Daud. Dia tidak putus asa sedikitpun. Dia tidak kecewa terhadap Tuhan meski yang ia hadapi sangatlah berat. Alkitab dengan jelas mengatakan bagaimana reaksi Daud setelahnya.

 “Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” (ay 6c). 
“David encouraged and strengthened himself in the Lord of his God.” 

Itulah yang pilihan yang diambil oleh Daud sebagai reaksi atas segala persoalan yang ia hadapi. Yang terjadi kemudian sungguh luar biasa. Alkitab mencatat hasilnya seperti berikut ini: 

“Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: “Inilah jarahan Daud.” (ay 17-20).

Daud sukses lewat pengambilan keputusan yang tepat.

Dia tahu bagaimana terbatasnya kemampuannya sebagai manusia, bahkan sebagai raja dengan banyak tentara sekalipun untuk mengatasi masalah yang pelik. Dia memutuskan untuk mengandalkan Tuhan, yang punya kuasa diatas segalanya. Dia mengerti betul bahwa di tangan Tuhan tidak ada yang mustahil. Dan yang paling penting, dia percaya sepenuhnya bahwa Tuhan sanggup dan mau untuk melepaskannya dari situasi sesulit apapun. Dan itulah yang terjadi. Mari kita lihat ulang apa yang dilakukan Daud.

 “Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” 

Tidak ada satupun catatan yang menjelaskan secara pasti bagaimana cara Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Namun setidaknya, dari berbagai kisah Daud kita bisa mendapat sedikit banyak gambaran mengenai gaya hidupnya yang bergantung penuh kepada Tuhan. Dalam Mazmur saja kita bisa mendapatkan banyak catatan mengenai bagaimana Daud berpusat kepada Tuhan saja, dan bukan kepada kekuatannya sendiri atau kepada masalah. Salah satunya berbunyi:

“Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3). Ini menggambarkan dengan jelas betapa kuatnya Daud bersandar kepada Tuhan dan betapa besar rasa percaya juga pengharapannya.
Kemudian lihat pula ayat berikut: Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (Mazmur 18:31).

Berbagai pengalaman masa lalu Daud sejak ia kecil membentuk dirinya untuk mengenal betul siapa Tuhan. Ia tahu bahwa ia tidak perlu takut akan apapun selama Tuhan ada besertanya. Begitulah besar iman di dalam dirinya yang sanggup membuatnya percaya bahwa Tuhan akan selalu sanggup untuk melepaskannya dari jerat masalah, meski jawaban atas masalah mungkin belum ia lihat.

Semua yang terjadi dalam hidup Daud merupakan proses pembentukan iman dan karakter yang mempersiapkannya untuk menggantikan Saul menjadi raja atas Israel.

Perjalanan hidup kita masing-masing pasti berbeda dari Daud maupun satu sama lainnya. Namun, kerumitan masalah yang kita hadapi mungkin sama, bisa jadi lebih. Jangan pernah menyerah kalah, apalagi kehilangan pengharapan. Allah yang sama yang dikenal dan dipercayai Daud, ialah Allah yang kita kenal dan sembah dalam Kristus. Dia menyertai kita dan mengizinkan masalah membentuk kita agar lebih bersandar kepada Tuhan dan lebih peka terhadap panggilan kita.

Bersandarlah kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan kita sendiri

AminTuhan Yesus Memberkati

RM – SCW

“Bukan HALU”

“Bukan HALU”

Renungan Harian Jumat, 14 Mei 2021

Bacaan: 1 Korintus 15:5-9

Pembacaan Firman Tuhan kita pagi ini berisi peristiwa-peristiwa Tuhan Yesus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Beberapa kali Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid-murid-Nya dan salah satu penampakan Tuhan Yesus yang pagi hari ini hendak kita renungkan adalah peristiwa ketika Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus diwilayah Galilea.

Nampaknya pada waktu itu murid Yesus telah sangat banyak, lebih dari 500 orang di Galilea. Hal ini mungkin disebabkan oleh pelayanan Tuhan Yesus sebagian besar terjadi di wilayah ini dan sebagian besar murid-Nya pun berasal dari Galilea.

Hampir dipastikan bahwa peristiwa ini sama dengan peristiwa yang dicatat di dalam Injil Matius 28:16-20. Hal ini berarti bahwa para murid menerima Amanat Agung untuk memberitakan Injil, bukan hanya untuk kesebelas murid, namun untuk semua murid-Nya.

Namun sayangnya ada tokoh-tokoh yang ternyata meragukan kebangkitan Yesus secara historis. Salah satu contohnya adalah Holtzmann yang menganggap bahwa kebangkitan Yesus bukanlah suatu peristiwa yang nyata tetapi merupakan halusinasi dari para murid. Senada dengan Holtzmann, seorang profesor Perjanjian Baru Gerd Ludemann melalui bukunya What Really Happened to Jesus, menuliskan bahwa peristiwa Kebangkitan Yesus tidak memiliki dukungan sejarah. Menurut Ludemann Perjanjian Baru tidak pernah menuliskan Yesus bangkit. Oleh karena itu, kebangkitan Yesus hanyalah iman tanpa bukti historis, dan merupakan produk halusinasi saja.

Saksi mata yang mengalami “sekaligus”

Paulus tidak hanya menekankan jumlah yang banyak dan momen yang berbeda-beda. Ia pun tertarik dengan jumlah yang banyak pada momen tertentu. Di setiap kisah kebangkitan yang ia singgung, selalu terdapat unsur komunal. Ada dua belas murid (ayat 5). Bukan hanya Petrus yang menyaksikan, tetapi semua murid sekaligus. Ada 500 orang saksi mata yang lain (ayat 6). Mereka melihat secara “sekaligus” (ephapax). Ada semua rasul (ayat 7). Penambahan “semua” (pasin) di sini menyiratkan bahwa kisah di ayat 7 dialami oleh semua rasul secara sekaligus. Seandainya yang dimaksud adalah semua rasul tapi pada momen yang berlainan, Paulus pasti sudah menggunakan ungkapan “setiap rasul,” bukan “semua rasul”.

Keterangan ini, sekali lagi, melemahkan teori halusinasi.

Tidak ada halusinasi yang dialami oleh sekelompok orang dalam jumlah besar dan pada momen tertentu yang sama. Halusinasi tejadi pada individu atau segelintir orang saja. Halusinasi biasanya terjadi dan berlangsung singkat hanya beberapa detik, atau menit, atau jam. Tetapi “Halusinasi” yang disaksikan oleh 500 saksi mata tersebut secara bersamaan dan pada tempat yang sama berlangsung selama 40 hari. (Kisah Para Rasul 1:3)

Halusinasi biasanya terjadi hanya satu kali, kecuali bagi yang orang yang tidak waras halusinasi yang dialami dapat berulang-ulang. Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit terjadi berulangkali kepada orang-orang yang normal (Yohanes 20:19-21:14; dan Kisah Para Rasul 1:3).

Teori halusinasi hanya dapat digunakan untuk mencoba beragumen bahwa kebangkitan Yesus tidaklah benar terjadi, setelah kejadian kebangkitan mulai. Tapi teori halusinasi tidak dapat digunakan untuk berargumen dan menjelaskan bagaimana kubur Yesus kosong, batu penutup pintu kubur Yesus yang terguling sehingga kubur terbuka, dan tidak dapat membuktikan keberadaan tubuh Yesus. Tidak ada teori yang dapat menjelaskan hal-hal tersebut kecuali teori bahwa Yesus Kristus benar-benar bangkit.

Tuhan Yesus benar-benar bangkit dan DIA benar-benar hidup, mari kita penuhi Amanat Agung-Nya:

Matius 28:18-20, “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Tuhan Yesus Memberkati.

CM