“HOPE”

“HOPE”

Renungan Harian Anak, Rabu 16 Juni 2021

Yohanes 5:1-18

Shalom Elohim Kids…….. Ayo kita merenungkan firman Tuhan untuk mengawali hari yang indah ini.

Adik-adik tahu apa arti HOPE????? Hope adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya pengharapan. Lalu pengharapan itu apa ya????? Pengharapan adalah sesuatu yang kita harapkan untuk terjadi.

Dalam bacaan kita hari ini ada seorang bapak yang sudah 38 tahun sakit lumpuh. Wah…. lama sekali ya. Di Yerusalem ada sebuah kolam namanya Betesda. Terkadang malaikat Tuhan turun dan mengguncangkan air kolam tersebut. Siapa pun yang sakit dan pertama masuk ke kolam itu saat airnya terguncang, ia akan sembuh. Berita ini telah tersiar ke banyak daerah, sehingga banyak orang sakit yang menunggu di sekitar kolam agar dapat sembuh, begitu juga dengan bapak yang lumpuh tadi. Tapi karena lumpuh, dia selalu gagal menjadi yang pertama masuk ke kolam saat airnya terguncang dan sudah lama ia ada di sekitar kolam namun tidak ada orang yang membantunya.

Meski keadaannya sulit, tapi bapak tadi tetap berada di sekitar kolam dan berharap ada orang yang mau membantunya masuk ke kolam dan dapat sembuh. Hari itu Tuhan Yesus melewati kolam Betesda. Saat melihat bapak yang lumpuh itu berbaring di sana, Yesus menawarkan kesembuhan kepadanya. Sesuatu yang diharap-harapkan oleh Si Lumpuh. Tuhan Yesus hadir di sana untuk mengabulkan pengharapan Si Lumpuh. Awalnya bapak tadi mengira Yesus akan membantunya sembuh sesuai dengan cara biasanya, membantunya menjadi yang pertama masuk ke kolam saat airnya terguncang dan menjadi sembuh. Tapi bukan itu yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, Tuhan menyuruhnya bangun dan mengangkat tempat ia berbaring. Saat Si Lumpuh percaya dan melakukannya, maka mukjizat terjadi dan ia sembuh.

Wah, Tuhan kita sangat luar biasa! Si Lumpuh yang merasa pengharapan untuk sembuh sangat kecil, ternyata dikabulkan oleh Tuhan. Adik-adik kita harus memiliki pengharapan. Apa yang menjadi keinginan adik-adik saat ini???? Mungkin ada yang ingin sembuh, ingin pandemi segera berakhir, ingin sekolah, ingin kembali beribadah di gereja, ingin keadaan menjadi lebih baik, itu semua adalah pengharapan.

Ayo ungkapkan pengharapanmu dan setiap doamu. Yakinlah Tuhan Yesus sanggup membuat harapanmu menjadi nyata, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa dan sangat mengerti setiap kebutuhan anak-anakNya.

Ayat Hafalan:

Roma 12:12, Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Komitmen hari ini:

Tuhan, Engkaulah sumber pengharapanku. Aku percaya Engkau akan memberikan yang terbaik bagiku saat aku membawa setiap pengharapanku dalam doa kepadaMu

GCT – SP

“Seperti Seharusnya”

“Seperti Seharusnya”

Renungan Harian Youth, Rabu 16 Juni 2021

Filipi 2:15 (TB)  supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Gimana Kabarnya rekan-rekan youth? sudah di vaksin atau masih menunggu giliran? saya harap kita semua ada dalam keadaan yang sehat-sehat dan baik-baik saja. Hari ini judul renungan kita adalah “Seperti Seharusnya.” (Wah, mirip sama judul album sebuah band yang katanya termahal di Indonesia nih).  Tapi btw, kita tuh nda akan ngomongin band ya, tapi kita mau ngomongin tentang sesuatu yang “seharusnya” ada di dalam pikiran, perasaan dan kehendak kita anak-anak muda Kristen.

Kalau kita bicara tentang apa yang seharusnya menjadi bagian di dalam kehidupan orang-orang muda.  Mungkin jika diklasifikasikan itu berupa,

1. SEMANGAT
2. KREATIF
3. UP TO DATE

Masih banyak lagi sih, namun saya pikir itu yang seharusnya ada di dalam diri orang-orang muda.  Dan jika kita kembangkan di dalam sisi spiritual kita, ketiga hal tersebut dapat menolong kita untuk memacu masa muda kita supaya berguna untuk kemuliaan nama Tuhan. Ya, kita perlu mengembangkan semangat, kreatifitas, dan informasi2 yang up to date di masa kini, supaya kita memiliki keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Dalam pembacaan firman Tuhan kita pagi ini, sebenarnya juga mendorong kita untuk memiliki sikap “seperti seharusnya.” 

Paulus mendorong para pembaca suratnya itu untuk tetap fokus memandang upah kehidupan yang setia dan taat kepada Tuhan.  Nasihat-nasihat itu bertujuan untuk menggerakkan semangat kita untuk terus berbuat kebenaran dan terus mengingat kasih karunia Tuhan.

Hal-hal yang harus menjadi perhatian di masa muda kita ini adalah:

 “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela.”

Mengamalkan kebenaran, sebenarnya menolong kita untuk menguasai diri sendiri dan bermanfaat untuk orang lain.  Hal ini juga berarti agar supaya kita jangan melukai siapa pun di dalam perkataan atau perbuatan, dan berbuat salah kepada orang lain.” Kita harus berusaha bukan hanya supaya kita tidak bernoda, melainkan juga tidak beraib. Tidak hanya supaya kita jangan mencederai, tetapi juga supaya jangan kita dicurigai dalam hal itu. Tiada beraib dan tulus.  Sehingga pada akhirnya kita menjadi anak-anak Allah yang Tiada beraib di hadapan manusia, dan tulus terhadap Allah.Seperti itulah seharusnya kehidupan anak-anak muda yang mengamalkan kebenaran dan hidup bagi Tuhan.

Barangsiapa memiliki hubungan semacam itu kepada Tuhan dan sesama, dia mendapat perkenanan Tuhan dan memperoleh hak istimewa sebagai orang pengikut Kristus dan  patutlah ia menjadi orang yang tiada beraib dan tiada bernoda. Anak-anak Allah harus berbeda dengan anak-anak manusia (Agak berat sih, namun pasti menyenangkan, selamat mencoba). 

Kata Tidak bercela – asal kata amōmēta, yang merupakan sifat dari Momus yang adalah seorang dewa Yunani yang banyak maunya, Ia tidak mengerjakan apa-apa, selain hanya menyalahkan semua orang dan segala sesuatu. Dari namanyalah, maka semua orang yang suka mengeluh tentang orang lain dan mengecam pekerjaan mereka disebut sebagai Momi. Arti dari ungkapan ini ialah, “Hiduplah dengan sedemikian berhati-hati supaya jangan Momus beroleh kesempatan untuk menunjukkan keberatannya terhadapmu, sehingga pengecam yang paling kejam pun tidak mendapati kesalahan pada dirimu.”

Kita harus memiliki tujuan seperti seharusnya yang Allah rancangkan dalam diri kita dan berusaha bukan hanya supaya kita masuk ke sorga, melainkan supaya kita masuk ke sana tanpa noda. Dan, seperti Demetrius, tentang dia semua orang memberi kesaksian yang baik, malah kebenaran sendiri memberi kesaksian yang demikian (3Yoh. 1:12).

Paulus juga sadar dengan keadaan dunia saat itu (yang juga sangat relevan dengan keadaan sekarang), yaitu kita hidup Di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini. Yaitu, di antara orang-orang yang hidul semaunya, dan orang-orang yang tidak ber-Tuhan. Apabila orang-orang yang di antara mereka kita hidup semakin bengkok dan sesat, dan semakin cenderung mencari-cari kesalahan, maka semakin kita harus berhati-hati untuk menjaga diri tidak beraib dan tidak bernoda.  Ini menjadi challenge kita sebagai anak muda Kristen yang tampil berbeda dan mampu bersinar seperti bintang-bintang.

 Sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.

Kristus adalah terang dunia, sedangkan orang Kristen yang baik adalah terang di dalam dunia. Di mana pun Allah memunculkan orang baik, di tempat itu Dia menyalakan terang. Atau, ini dapat dibaca sebagai perintah: bercahayalah di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang. Orang Kristen harus berusaha supaya tidak hanya berkenan kepada Allah, tetapi juga disukai orang lain, sehingga mereka juga dapat memuliakan Allah. Mereka harus bercahaya sekaligus tulus.

Seperti itulah Seharusnya fungsi kita di dalam dunia ini. Menjadi tugas kitalah untuk tidak saja berpegang, tetapi juga menyampaikan firman kehidupan. Bukan hanya memegangnya teguh demi keuntungan kita sendiri, melainkan juga menyampaikannya demi keuntungan orang lain, menjulurkannya seperti kaki dian yang menjulurkan pelita, sehingga bermanfaat bagi sekelilingnya. Atau, seperti benda-benda penerang di langit, yang menebarkan pengaruh jauh ke mana-mana.

Dikatakan Paulus bahwa inilah yang menjadi sukacitanya, “Agar aku dapat bermegah pada hari Kristus. Bukan hanya bermegah karena kamu teguh, melainkan juga karena kamu berguna.”

Filipi 2:14, Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak  bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,

Komitmen Kita:

Aku mau di dalam hidup ini aku berfungsi sesuai tujuan Tuhan, seperti seharusnya yang Tuhan rancangkan di dalam hidupku.

RM – YDK

“Sikap Menentukan Hasil”

“Sikap Menentukan Hasil”

Renungan Harian Rabu, 16 Juni 2021

Syalom Selamat Pagi Bapak Ibu Saudara yang Dikasihi Tuhan Yesus . . .

Bacaan kita hari ini terambil dari  II Samuel 15: 13-37 , yaitu Kisah tentang Daud melarikan diri dari Yerusalem.

II Samuel 15:30, “Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis.”

Ayat di atas mengisahkan bagaimana raja Daud harus kembali menjalani hidup dalam pelarian. Jika dahulu dia pernah sekian lama melarikan diri dari kejaran raja Saul, sekarang dia harus melarikan diri dari Absalom, anaknya sendiri. Absalom dengan segala kelicikannya telah diam-diam mengambil hati rakyat Israel daripada Daud. Setelah Absalom merasa telah mendapat dukungan dari rakyat, ia kemudian mengangkat dirinya menjadi raja di Hebron. Setelah menjadi kuat, maka ia bersiap masuk ke Yerusalem untuk menggulingkan Daud dari tahta raja Israel.

Buat Daud ini merupakan sebuah masalah yang tidak ringan. Bayangkan, musuh-musuh telah ia kalahkan sepanjang perjalanan hidupnya. Ia tidak pernah takut dan tidak pernah kalah di dalam setiap peperangan yang dihadapi. Namun kali ini ia berhadapan dengan anaknya sendiri. Seorang yang pernah ia besarkan, namun berbalik hendak menggulingkan tahtanya, bahkan tidak segan-segan menghabisi nyawa ayahnya sendiri. Ada berbagai pertimbangan yang Daud ambil mengapa ia tidak balik memerangi Absalom. Sikap Daud menghadapi masalah ini adalah

1. Menempatkan Tuhan sebagai Raja di hidupnya

II Samuel 15:25 “Lalu berkatalah raja kepada Zadok: “Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.”

Sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja di Israel untuk selalu membawa Tabut Allah di dalam setiap peperangan yang mereka hadapi. Tabut Allah dipercaya melambangkan kehadiran Allah atas umat-Nya. Dimana Tabut Allah berada mereka percaya bahwa di situ pasti kemenangan terjadi. Ayat di atas mengatakan bahwa Daud tidak ingin Tabut Perjanjian mengikuti dia. Seperti dalam 1 Sam. 22:3 ketika Daud tidak ingin orang tuanya bersama dengan dia menuju tempat yang tidak jelas, demikian juga sekarang dia tidak ingin Tabut Perjanjian dan imam Zadok dan Abyatar mengikuti dirinya dan dipaksa pergi ke tempat yang belum jelas. Kalimat Daud sangat menyentuh. Dia mengatakan bahwa dia belum tentu akan selamat kali ini. Tetapi jika Tuhan berbelas kasihan, maka dia pasti akan kembali ke Yerusalem dan melihat kembali Tabut Perjanjian Tuhan. 

Kemenangan di dalam kisah ini bukan bagaimana Daud harus mendapatkan tahtanya kembali dari tangan Absalom. Sebaliknya, kemenangan yang sesungguhnya justru terjadi ketika Daud baru akan meninggalkan tahtanya di Yerusalem dengan tidak membawa Tabut Allah. Bagaimana mungkin? Kemenangan telah terjadi dari perubahan cara Daud menilai Tuhan. Tuhan telah memulihkan Daud dengan memberikan kepada dia hati yang kembali berfokus kepada Tuhan, bukan kepada sebuah benda semata-mata bernama Tabut. Daud tidak memanfaatkan Tabut Allah dengan cara yang salah. Dia tidak mau tabut itu digunakan untuk menjadi jimat dalam peperangan supaya dia aman. Asal Tuhan yang hidup menjadi Raja yang sesungguhnya di dalam hidupnya, itu sudah cukup bagi Daud. Itulah kemenangannya !

2. Menempatkan Tuhan sebagai Guru terbaiknya

2 Samuel 15:26 “Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.”

Daud adalah manusia berdosa, sama seperti kita semua. Dia telah melakukan hal-hal yang tidak bisa dibayangkan akan dilakukan oleh orang seperti Daud. Tetapi inilah faktanya. Tidak ada seorang pun yang sempurna.Tetapi bagian ini membedakan Saul dengan Daud. Saul jatuh ke dalam dosa dan sejak itu dia terus mengalami kemerosotan rohani. Dia makin sombong, makin aneh dan makin gila kekuasaan. Tetapi bagi Daud, setiap teguran yang ia terima dari setiap pelanggaran yang ia lakukan, menjadi sebuah pelajaran berharga dalam hidupnya yang membuat ia semakin berkenan di hadapan Tuhan. Setiap kita pasti pernah jatuh ke dalam dosa. Setiap kita pernah mengalami keadaan yang sangat menyedihkan karena pemberontakan kepada Tuhan. Tetapi yang membedakan seorang benar dengan orang yang kerohaniannya palsu adalah responsnya dalam menyadari kesalahannya. Kerohanian yang benar ditujukkan dengan adanya pertobatan sejati dan sungguh-sungguh untuk mau hidup benar.

Setiap kita tentunya pernah atau mungkin sedang menghadapi persoalan. Pada prinsipnya kita tidak bisa menghindar dari yang namanya persoalan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana sikap atau reaksi kita saat menghadapi masalah itu. Apabila bersikap benar, maka kita akan dapat mengatasi masalah itu dengan baik.

Sesungguhnya bukan ukuran dan jenis masalahnya, namun bagaimana sikap kita terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu kita harus memiliki sikap yang benar, antara lain tidak berfokus pada besarnya masalah, karena ini dapat membuat kita semakin terpuruk dengan masalah tersebut.

Tuhan Yesus memberkati …

TC