“Memuliakan Tuhan dalam Kekurangan”

“Memuliakan Tuhan dalam Kekurangan”

Renungan Harian Anak, Selasa 01 Juli 2021

Hai … Adik-adik yang diKasihi dan yang Mengasihi Tuhan Yesus …

Pernah nggak adik-adik suatu hari kepingin beli kue, chiki atau es krim tapi nggak punya uang ?? Ato adik-adik pernah melihat teman-teman yang tidak seberuntung kita. Ada adik-adik yang tidak punya rumah dan harus tinggal di jalanan, tidak bisa makan seperti kita yang tiga kali sehari.

Nah adik-adik sekalian ada kisah nyata tentang Grezia Epiphania mengalami keterbatasan dalam penglihatan sejak lahir. Meskipun begitu, Grezia tumbuh sehat seperti anak–anak lainnya. Ia mampu bermain sendiri, berjalan sendiri, dan melakukan banyak ativitas secara mandiri. Selain itu yang lebih luar biasa lagi, Tuhan berikan dia kemampuan menyanyi dan bermain piano.Pada usia saat ini (12 tahun), ia sudah memiliki beragam prestasi dalam bernyanyi dan bermain piano. Misalnya, Juara 1 Penyanyi Anak Indonesia Tingkat Nasional Wilayah Kalimantan Tiur, Juara 3 Penyanyi Solo Gloria di Balikpapan. Juara 1 Piano Contest and Singing Contest (Antar Sekolah) di Balikpapan, dan banyak lainnya.

Wah, luar biasa ya talenta Grezia yang telah Tuhan berikan. Itu sebabnya Grezia mau selalu melayani Tuhan dan memuliakan Tuhan. Sekarang dia sering menyanyikan puji-pujian di channel Youtubenya.

Melalui segala kekurangan dan keterbatasannya, dia mau memuliakan Tuhan Yesus . Adik-adik yang dikasihi Tuhan Yesus, hari ini kita ingin mau belajar memuliakan Tuhan lewat segala kekurangan yang ada dalam diri kita atau keluarga kita.

II Korintus 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu , sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku

Adik-adik Kelemahan bukan sesuatu yang harus ditangisi tetapi serahkan kepada Tuhan dan jalani setiap prosesnya karena Tuhan akan merubah hal tersebut menjadi kekuatan bagi kita dan nama Tuhan akan dimuliakan.

Ayo bersemangat adik-adik semua, kalian bisa mengembangkan segala sesuatu yang sudah Tuhan anugerahkan, walaupun ada kelemahan kakak percaya Tuhan memberikan talenta yang hebat dalam diri adik-adik semuanya

Ayat hafalan

II Korintus 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu , sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Komitmenku hari ini

Kelemahan bukanlah halangan untuk mengembangkan talentaku, aku percaya Tuhan akan menolongku mengembangkannya untuk kemuliaan nama Tuhan

Tuhan Memberkati …….

TC – KCP

“Mahakarya Sang Pencipta”

“Mahakarya Sang Pencipta”

Renungan Harian Youth, Selasa 01 Juni 2021

Efesus 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Rekan-rekan youth, pernah gak melihat mobil mewah bernama Rolls Royce? Siapa pun tidak dapat menyangkal bahwa Rolls Royce adalah sebuah nama yang menggambarkan kemewahan, kenyamanan dan maha karya dalam otomotif dunia. Pabrikan mobil asal Inggris ini hanya memproduksi mobil-mobil kelas atas dengan kualitas tanpa kompromi. Setiap komponennya dibuat dari bahan terbaik dengan tingkat presisi dan perhatian pada detil yang luar biasa. Setiap jahitan pada jok kulit Rolls Royce dilakukan secara handmade. Ornamen-ornamen interiornya kaya dengan material kelas atas dan karya seni yang tinggi. Bahkan ada yang terbuat dari emas 24 karat atau frosted crystal yang sangat mahal. Konon tidak ada satu pun mobil Rolls Royce yang identik atau sama persis satu dengan yang lain sekalipun memiliki tipe dan tahun produksi yang sama. Ini tidak mengherankan, sebab pembuatannya bukan hanya melibatkan mekanik-mekanik terbaik, tetapi juga seniman-seniman terbaik.  Mobil ini adalah sebuah mahakarya dari tangan-tangan ahli terbaik.

Rekan-rekan youth, tahu gak kalau kita (manusia — kamu dan saya –) adalah sebuah mahakarya. Dan pernyataan ini sudah tercatat di dalam Firman Tuhan yang kita baca hari ini, dalam Efesus 2:10, yang mengatakan bahwa kita adalah workmanship atau masterpiece (maha karya) dari Sang Pencipta, Allah kita.

Kalau kita membayangkan mobil Rolls Royce begitu luar biasa, sesungguhnya itu masih belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan keberadaan diri kita. Setiap kita diciptakan dan dibentuk oleh tangan Allah sendiri. Bermiliar-miliar manusia di dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang identik dengan manusia lainnya secara 100%! (Orang kembar pun masih ada pembedanya). Pembuat mobil Rolls Royce begitu memperhatikan setiap detil dari mobil yang dibuatnya, tentu dengan sebuah tujuan, yaitu agar pemiliknya nyaman dan dapat menikmatinya.

Rekan-rekan youth, perhatikanlah ayat ini sebagai sebuah konfirmasi bahwa kita adalah mahakarya ciptaan Tuhan Allah kita,

Yesaya 43:4, Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

Hal yang perlu kita responi adalah betapa di dalam pemandangan Allah, kita tidak dipandang sebagai makhluk yang hina.  Allah tetap memandang kita sebagai sebuah mahakarya dan tetap memiliki tujuan Allah di dalam dunia ini.  Ada begitu banyak godaan bagi manusia untuk merusak tubuhnya, namun seburuk dan separah apapun kondisi kita, Tuhan tetap memandang hidup kita dengan sempurna.

Begitu pula dengan kita, Allah menciptakan kita begitu luar biasa dengan sebuah tujuan, yaitu untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Pada saat Allah membentuk manusia, pada hari-hari penciptaan, Allah terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu yang manusia butuhkan terlebih dahulu, mulai dari makanan dan tempat tinggal untuk manusia.  Karena manusia merupakan ciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah, dan juga sangat berharga di hadapan Allah.

Oleh karena itu, apa pun yang sedang kita kerjakan saat ini, tetaplah fokus pada tujuan Tuhan dalam hidup kita.  Bahwa kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik dan Dia mau supaya kita hidup di dalam Dia.  Rasul Paulus di dalam pasal 2 mengatakan bahwa segala sesuatu adalah karena anugerah, sebab semua keuntungan rohani yang kita peroleh berasal dari Allah. 

Maksud Paulus yaitu, bahwa kita  bukan hanya sebagai manusia biasa, tetapi sebagai orang kudus. Manusia yang selalu sadar bahwa dirinya adalah ciptaan yang baru, dan Allah adalah Penciptanya dan ada tujuan Tuhan di dalamnya.

Setelah karya Salib yang dikerjakan Tuhan Yesus Kristus, kehidupan kita adalah sebuah kelahiran yang baru, dan kita dilahirkan atau diperanakkan oleh karena kehendak-Nya. Dalam Kristus Yesus, maksudnya, melalui apa yang telah dilakukan dan diderita oleh-Nya, dan melalui pengaruh dan pekerjaan Roh-Nya yang mulia. Kita dimampukan Untuk melakukan pekerjaan baik dan memuliakan Allah.

Setelah sebelumnya Paulus menyatakan bahwa perubahan ini disebabkan oleh anugerah ilahi, dan bukan karena perbuatan kita, maka supaya ia tidak dikira menganggap bahwa orang tidak perlu berbuat baik, maka di sini ia menyatakan bahwa sekalipun perubahan itu bukan disebabkan oleh perbuatan (karena kita ini buatan Allah), namun di dalam ciptaan-Nya yang baru, Allah telah merancang dan mempersiapkan kita untuk melakukan berbagai pekerjaan baik.

Diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, dengan tujuan supaya kita berbuah di dalamnya.

Bilamana Allah menanamkan aturan-aturan dasar yang baik oleh kasih karunia-Nya, aturan-aturan itu dimaksudkan untuk pekerjaan baik. Yang dipersiapkan Allah sebelumnya, maksudnya, yang ditetapkan dan ditunjuk. Atau, perkataan tersebut bisa dibaca sebagai, yang disiapkan Allah sebelumnya bagi kita, yaitu dengan cara memberkati kita dengan pengetahuan akan kehendak-Nya, dan dengan pertolongan Roh Kudus-Nya. Dan dengan mengadakan perubahan semacam itu di dalam diri kita. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya, atau memuliakan Allah dengan perilaku yang dapat diteladani dan dengan ketekunan kita untuk terus ada di dalam kekudusan.

Komitmen kita:

Aku mau untuk terus menyadari bahwa hidupku berharga dan ada tujuan Tuhan yang berlaku dalam hidupku.

Amin … Tuhan Yesus Memberkati

RM – SCW

“Bangkitlah dari Kegagalan”

“Bangkitlah dari Kegagalan”

Renungan Harian Selasa, 01 Juni 2021

Ayat Bacaan :Lukas 5 : 1-11

Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan dan akhirnya mengalami kegagalan, tetapi sebenarnya kegagalan itu dapat menjadi kesempatan untuk mengalami kesuksesan dan keberhasilan. 

Dalam cerita Lukas 5 : 1-11 ini, dikatakan bahwa Petrus dan teman-temannya sedang mencari ikan dan telah sepanjang malam mereka menangkap ikan, namun mereka tidak menangkap apa-apa. Ini sesuatu hal yang tidak biasa. Petrus adalah seorang nelayan yang professional, berpengalaman, punya perahu yang baik, posisi lokasi yang tepat untuk menangkap ikan, dan mereka telah bekerja semalam-malaman, tetapi Petrus tetap gagal. 

Hal ini menunjukkan bahwa orang pintar dan berpengalaman sekali pun akan dapat mengalami kegagalan.  

Lukas 5 : 3 – 6 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

Tuhan Yesus tidak pernah membuat mujizat tanpa tujuan. Melalui cerita ini, Tuhan hendak menyampaikan kepada kita, apa yang harus dilakukan ketika kita mengalami kegagalan: kegagalan dalam pekerjaan, kegagalan dalam ujian sekolah, kegagalan dalam pernikahan dan lain-lain. 

Perjalanan kehidupan kekristenan kita tidak selalu mulus, bahkan sering terjadi godaaan untuk menyerah, resign dari pelayanan atau pun perkataan tidak ada lagi “Tuhan Tuhanan”, tidak mau lagi beribadah. 
Dari cerita Petrus ini, kita melihat bahwa ada dua perbedaan, yaitu pertama, ketika Petrus bekerja mencari ikan tetapi tidak menangkap apa-apa, dan kedua adalah ketika ada Tuhan Yesus mereka menghasilkan banyak ikan. Perbedaan ini membuat kita merenungkan makna kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Tuhan tidak tertarik melihat kita gagal. Bapak jasmani kita di dunia ini saja tidak mau melihat anak-anaknya mengalami kegagalan, apalagi Bapa di Surga. 

Dari pengalaman Petrus itu, kita akan belajar bagaimana kita dapat bangkit dari kegagalan, yaitu :

1. KEHADIRAN TUHAN

Ayat 3, “Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.” 

Tuhan Yesus ada di dalam perahu Petrus. Ini menegaskan bahwa kita harus membawa Tuhan Yesus masuk ke dalam perahu kehidupan kita: keluarga, pekerjaan, bisnis, pelayanan dan study kita. Bagi Petrus, perahu itu adalah sumber kehidupannya dan penghasilannya. Pertanyaannya adalah apakah bisnis dan pekerjaan kita tersedia bagi Kristus ? Jangan memisah-misahkan perkara rohani dan perkara sekuler pekerjaan kita. Sebab pemisahan ini justeru mencegah kita diberkati Tuhan. Kalau kita memberikan seluruhnya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberkati seluruhnya. 

Kehadiran Yesus di perahu Petrus membuat Petrus menangkap banyak ikan. 

2. BEKERJA-SAMA dengan RENCANA TUHAN

Ayat 4, “ Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

Setelah Tuhan Yesus masuk ke dalam perahunya, Petrus tidak membantah perintah Yesus, Petrus tidak meragukan Yesus dan Petrus bekerja sesuai dengan rencana dan petunjuk yang diberikan Yesus – padahal Petrus adalah seorang nelayan yang mahir dan berpengalaman. Artinya, setelah Tuhan Yesus kita ijinkan masuk ke dalam kehidupan kita, maka itu artinya kita belajar melakukan kehendak Tuhan, bukan kehendak rencana kita lagi. 
Ada orang yang gagal melakukan kehendak Tuhan karena adanya resiko. Resiko bahwa kita harus hidup dalam iman.

Ada orang yang gagal berkomitmen kepada Tuhan, karena takut dituduh sebagai orang yang fanatik, akibatnya membuat orang tersebut takut melangkah dalam iman. Oleh sebab itu, biarkan kehadiran Tuhan Yesus itu menyertai kemana kita pergi, mengarahkan kehidupan kita dan mari bekerjasama dengan rencana Tuhan. 

3. BERHARAP kepada JANJI TUHAN

Ayat 5, “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Penangkapan ikan yang kedua ini dilakukan Petrus karena berdasarkan perintah Tuhan, bukan karena kemauan mereka. Mengapa Petrus mau ? Karena Petrus percaya kepada janji Tuhan: “tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Sama seperti Abraham ketika membawa anaknya Ishak untuk dipersembahkan, Abraham berkata bahwa Tuhan yang akan menyediakan! Ketika Tuhan menyuruh Petrus, ketika Tuhan ada di dalam perahu Petrus dan ketika Tuhan mengarahkan Petrus, maka Petrus yakin bahwa dia tidak akan gagal lagi. 

Bangkit dari kegagalan, dan biarkan Tuhan Yesus memasuki kehidupan kita, dan setelah Tuhan ada menyertai, maka bekerjasamalah dengan rencana Tuhan. Kemudian, berharaplah kepada janji Tuhan, bahwa janji-Nya adalah amin dalam kehidupan kita. 

Tuhan Yesus Memberkati