“Teman Baik”

“Teman Baik”

Renungan Harian Anak, Kamis 03 Juni 2021

Syalom adik-adik semuanya, bersyukur hari ini kakak bisa menyapa adik-adik Kembali dalam renungan harian hari ini. Sudah siap semuanya … yuk disiapkan hati dan pikirannya ya ….

Hari ini kakak akan mengajak adik-adik untuk merenungkan Firman Tuhan dengan judul “teman” baik.

Kita akan sama-sama belajar dari kisah persahabatan antara Daud dan Yonatan dalam kitab 1 Samuel pasal 18 dan 19.

Adik-adik teman baik Daud adalah Yonatan, anak Raja Saul. Karena Yonatan adalah seorang pangeran, seharusnya ia kelak akan menjadi raja, menggantikan ayahnya. Tetapi Allah mempunyai rencana lain. Allah secara khusus telah memilih Daud untuk menjadi raja, yang akan menggantikan Raja Saul. Tetapi hal ini tidak membuat Yonatan marah atau iri, sebaliknya ia berbahagia karena Daud akan menjadi raja. Ia sangat mengasihi Daud dan ia percaya bahwa Allah mempunyai rencana yang besar untuk temannya itu. Daud dan Yonatan memiliki persahabatan yang sangat baik, sejak mereka bertemu Yonathan mengasihi Daud seperti saudaranya sendiri.

Suatu kali, ketika Daud berada dalam bahaya, Yonatan menolong Daud agar terhindar dari bahaya. Yonatan membela Daud dan menolong nya. Karena persahabatan Yonatan yang tulus dan pertolongan Yonathan, Daud selamat. Dan suatu saat akhirnya menjadi salah satu raja yang paling berkuasa dalam sejarah bangsa Israel. Bahkan Persahabatan Daud dan Yonatan bahkan berlanjut sampai kepada anak Yonatan. Ketika Yonatan sudah meninggal, Daud tidak melupakan Yonatan dengan memelihara dan melindungi anak-anak Yonatan.

Adik-adik apakah kamu mempunyai teman baik ? Kalau kamu sedang sedih, teman baik akan menghiburmu,dan mereka akan turut merayakan kalau kamu sedang berbahagia. Dengan berteman kita bisa saling menolong dalam mempelajari hal-hal baru atau menyelesaikan masalah.

Dalam berteman kita selalu menginginkan hal terbaik untuk teman kita demikian juga sebaliknya. Kadang-kadang teman kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi sebagai teman baik kita harus belajar untuk ikut berbahagia atas apa yang mereka dapatkan. Jika kita dan teman kita memperlakukan satu sama lain dengan baik, maka pertemanan kita bisa berlangsung lama.

Adik-adik ayo membangun persahabatan yang baik, sebagai anak Tuhan bagaimana kita bersahabat dengan baik? Contohnya dengan saling mendoakan, kemudian saling mengingatkan untuk melakukan hal-hal yang benar. Saling mengingatkan kalau ada yang tidak baik dan salah.

Kalau kalian senang memiliki sahabat yang baik dan suka menolong adik-adik juga harus menjadi sahabat atau teman yang baik.

Apalagi dimasa pandemi ini, persahabatan bisa dibangun lewat media sosial entah WA, Facebook, Instagram dll, ayo adik-adik juga harus menggunakan teknologi untuk pertemanan dengan baik dan benar. Apalaigi sahabat game online, ayo bukannya tidak boleh main game tetapi saling mengingatkan untuk tidak bermain game kebablasan dan melakukan hal tidak baik.

Ayo hari ini kita semua mau belajar untuk menjadi sahabat yang baik saling menolong

Ayat Hafalan :

Matius 7:12A, Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Komitmenku hari ini

Allah yang baik, terimakasih untuk teman-teman saya. Tolonglah saya bisa menjadi teman yang baik ,selalu memperlakukan mereka dengan baik. Amin

VA – RS

“Hidup Takut akan Tuhan”

“Hidup Takut akan Tuhan”

Renungan harian Youth, Kamis 03 Juni 2021

Syalom rekan-rekan youth … mari hari ini kita belajar sebuah tema yang umum dalam kekristenan, hal yang sering dinyatakan yaitu “takut akan Tuhan” dan secara khusus kita akan mengenal takut akan Tuhan dari kitab Amsal. Kata takut akan TUHAN digunakan 19 kali di dalam kitab Amsal.

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. (Ams. 1:7)

Banyak orang Kristen mempunyai persepsi atau pengertian yang salah tentang arti takut akan TUHAN. Kebanyakan orang Kristen mendefinisikan takut akan TUHAN dengan ketaatan melakukan perintah Tuhan karena rasa takut akan hukuman.

Amsal 1:29 Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN,

Takut akan Tuhan bukanlah sekedar karunia yang diberikan Tuhan tetapi lebih kepada keputusan untuk memilih takut akan Tuhan dari pada mengikuti kehendaknya sendiri.

Ada banyak hal yang seringkali membuat manusia mengalami rasa takut seperti takut akan kegelapan, Takut akan kematian, Takut akan ketinggian,  Takut akan kehilangan orang-orang yang dicintai dan banyak lagi jenis ketakutan lainnya. Sikap Takut akan TUHAN bukan seperti itu.

Kitab Amsal menyamakan hal takut akan TUHAN dengan pengetahuan akan Allah,  Takut akan Tuhan adalah kesadaran akan kekudusan, keadilan dan kebenaran-Nya sebagai pasangan terhadap kasih dan pengampunanNya, yaitu: mengenal Dia dan memahami sepenuhnya siapakah Dia. Takut akan Tuhan berarti memandang Dia dengan kekaguman dan penghormatan kudus serta menghormati-Nya sebagai Allah karena kemuliaan, kekudusan, keagungan, dan kuasa-Nya yang besar.

Rasa takut yang dimiliki oleh orang percaya lebih mengarah kepada “penghormatan” akan Dia bukan takut karena adanya suatu “hukuman” yang akan diterimanya. seharusnya takut akan TUHAN bukan karena takut TUHAN marah bila kita tidak taat melainkan kita takut karena kita mengasihi Dia.

Kata ‘takut’ dalam kitab Amsal menggunakan kata “yara” dan “yir’a” yang berasal dari kata dasar “yare” yang berarti ‘takut’ atau ‘menakuti’. kata ini mengacu  kepada suatu sikap segan terhadap Allah.

Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari memberikan penjelasan yang lebih mudah dipahami, “untuk memperoleh ilmu sejati, pertama-tama orang harus mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN. Amsal 1:7 (BIS)

Aspek Takut akan Tuhan

1. Sikap ‘hormat atau segan’ terhadap TUHAN, yang harus diaplikasikan oleh setiap orang dalam kehidupannya setiap hari.

Takut akan Tuhan tidak berkonotasi negatif, malah seharusnya merupakan sebuah sikap yang positif terhadap Tuhan. Kalau kita sudah berbuat salah maka kita patut takut, tetapi kalau hubungan dengan Tuhan baik, maka istilah yang lebih baik adalah hormat kepada Tuhan

Pengertian takut disini adalah sehubungan dengan praktek hidup sehari-hari yang dekat dengan TUHAN dengan cara menjauhi kejahatan.

2. Takut akan Tuhan sikap hidup sehari-hari untuk semakin mengenal Tuhan.

Kata takut akan TUHAN dalam kitab Amsal mengacu kepada praktek hidup sehari-hari untuk lebih lagi mengenal dan berusaha untuk mencari TUHAN dalam kehidupan ini agar kehidupan yang setiap orang jalani sekarang ini bahkan selama hidup tidak dijalaninya dengan sia-sia, tetapi senantiasa dijalaninya dalam takut akan TUHAN.

Takut akan Tuhan membawa seseorang kepada sesuatu yang lebih baik. Membawa orang kepada pengetahuan yang lebih baik tentang siapa TUHAN. ketika setiap orang memperoleh pengenalan akan TUHAN secara benar, maka sikap takut akan TUHAN akan selalu menjadi gaya hidup setiap orang.

Dalam Kitab Amsal yang mendasari kehidupan seseorang ialah hubungannya dengan Allah. Dari hubungan itulah tumbuh pengetahuan moral serta kemampuan untuk menilai apa yang dan bersikap dengan benar kepada sesama.

Takut akan TUHAN merupakan motto kitab Amsal. Takut akan TUHAN mengarahkan setiap orang kepada kehidupan yang lebih bermanfaat. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang dituntut untuk selalu takut akan TUHAN.

Rekan-rekan dalam dunia ini, kehidupan setiap orang diperhadapkan kepada banyak persoalan, tantangan, godaan, dan hambatan. Orang-orang yang mengenal dan memilih takut akan TUHAN tidak perlu memiliki perasaan cemburu ataupun iri terhadap kejahatan orang-orang yang ada disekitarnya, bahkan tidak perlu mengikuti jalan-jalan tersebut, karena dalam takut akan Tuhan mengerti bahwa itulah kebahagiaan dalam kehidupan kita.

Kehidupan yang dijalani dalam takut akan TUHAN, adalah kehidupan yang mendatangkan sukacita dan kehidupan dalam berkat Tuhan. Karena ada banyak berkat didalam Takut akan Tuhan yang akan kita bahas besok

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semuanya

Komitmenku hari ini

Takut akan Tuhan adalah sikap hati yang harus aku miliki, mengenal Allah dalam takut akan Dia adalah tindakan kasih dan penghormatan kepadaNya

YNP – LP

“Tidur Rohani”

“Tidur Rohani”

Renungan Harian Kamis, 03 Juni 2021

Efesus 5:14, “Itulah sebabnya dikatakan: ”Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.””

Mari kita bicara tentang tidur. Tidur itu baik dan sehat. Apalagi kalua pulas, bisa bikin tubuh kita bugar, otak kita pun jadi terang. Kita membutuhkan tidur, seperti kita membutuhkan makan dan minum. Orang yang kurang tidur ujung-ujungnya bisa loyo atau jatuh sakit.

Apakah ciri-ciri orang tidur?

  1. Ia tidak perduli orang lain. Apakah mrndengkurnya mengganggu, apakah ilernya mengganggu, apakah posisi tidurnya mengganggu, ia tidak perduli. Ia hanya asik dengan kenikmatannya sendiri.
  2. Ia tidak peduli dengan keadaan di sekitar. Televisi nyala terus semalaman, jemuran kehujanan, masak sampai gosong, di luar ada orang yang triak-teriak, ia tidak peduli. Ia hanya peduli dengan dunianya sendiri.
  3. Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Bahasa jawanya tidak eling lan waspada. Mulut terbuka lebar, sampai lalat, nyamuk bisa masuk, pakaian dalam tersingkap ia tidak perduli, tidak malu atau rishi.

Itu orang yang tidur secara jasmani, orang yang tidur secara rohani kurang lebih juga sama:

Pertama, ia tidak perduli orang lain.

Apakah perilakunya menyebalkan, apakah perkataannya menyakitkan, apakah tindakannya merugikan atau bahkan membahayakan orang lain, ia tidak peduli. Ia tidak peduli dengan perasaan orang lain. Ia hanya peduli dengan urusannya sendiri, kesenangan dan kenikmatannya sendiri.

Banyak contohnya: orang yang merokok di tempat umum, sehingga asapnya kemana-mana dihisap orang lain yang tidak merokok. Begitu juga dengan oang yang kebut-kebutan di jalan rayadan tidak menaati aturan berlalulintas, sehingga membahayakan orang lain.

Kedua, ia tidak peduli dengan keadaan sekitar.

Di luar terjadi musibah, orang banyak berjerih lelahmemberi bantuan, ia tidak peduli, cuek. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Atau, diluar ada orang yang sussah dan benar-benar membutuhkan bantuan, ia tidak ambil pusing, sibuk dengan dunianya sendiri. Mirip dengan Imam dan orang Lewi dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Melihat orang sekarat dipinggir jalan yang habis dirampok, mereka hanya melewatinya (Lukas 10:31-32).

Ketiga, ia tidak peduli dengan dirinya sendiri.

Apakah sikap dan perbuatannya akan merusak citra dirinya, ia tidak peduli. Apakah ucapannya akan merugikan atau bahkan mencelakakan dirinya sendiri, ia tidak peduli. Ia sembrono dengan mulutnya dan teledor dengan perilakunya. Ia juga tidak malu pamer anggota tubuhnya di media social, pamer kekayan padahal hasil dari korupsi atau hutang. Ia tidak malu pamer kesalehan, fasih bicara soal moral dan agama, padahal semua orang tau perilakunya yang tidak bermoral dan tidak agamis.

 Begitulah, ada tidur jasmani ada juga tidur rohani. Tidur jasmani bermanfaat, tidur rohani merusak. Tidur jasmani harus kita upayakan, tidur rohani harus kita hindari. Seperti kita menghindari virus corona yang mematikan. Secara jasmani ada saatnya kita harus tidur, secara rohani kita harus senantiasa terjaga, jangan sampai tertidur.

Dari ciri-ciri yang sudah disebutkan diatas, adakah kita termasuk orang-orang yang tertidur secara rohani? Jika ya, mari kita segera bangun sebelum semuanya menjadi terlambat.

Tuhan Yesus Memberkati.

CM